Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ku Ikuti kemauan istri bosku

 


Senja merayap perlahan, mewarnai langit Jakarta dengan semburat jingga. Fiki, pemuda 23
tahun yang berprofesi sebagai sopir pribadi, sedang asyik memainkan bidak catur melawan Pak Arif, satpam berusia 45 tahun. Papan catur yang diletakkan di pos jaga menjadi saksi bisu keasyikan mereka. Gerakan tangan Fiki yang lincah berpadu dengan raut serius Pak Arif yang sedang memikirkan langkah selanjutnya.

Tiga tahun bekerja di keluarga Anton Wijaya, Fiki sudah terbiasa dengan suasana rumah yang kadang tenang, kadang penuh dinamika. Ia mengenal Anton Wijaya, pria 46 tahun yang sukses dan berwibawa, serta istrinya, Helena Wijaya, 40 tahun, wanita berdarah Tionghoa yang anggun.

Tiba-tiba, keheningan di sore itu pecah. Dari dalam rumah, terdengar suara keributan yang semakin lama semakin keras. Fiki dan Pak Arif saling pandang. Mereka sudah hapal betul suara-suara itu berasal dari Anton Wijaya dan istrinya. Pertengkaran suami istri itu mengalir deras, membanjiri suasana damai di pos jaga.

"Duh, ribut lagi mereka," gumam Pak Arif, menghentikan langkah catur. Fiki mengangguk pelan. Pertandingan catur mereka pun terhenti, sama seperti hati mereka yang mendadak terasa tidak nyaman. Bidak-bidak catur yang tadinya hidup dalam permainan, kini membeku, seolah ikut terdiam menyaksikan riuh rendah pertengkaran yang tak kunjung usai. Fiki dan Pak Arif hanya bisa terdiam, berharap badai emosi di dalam rumah itu segera reda.

Malam semakin pekat, dan ketenangan di pos satpam kembali terusik. Pintu utama rumah mewah itu terbuka dengan kasar. Tampak Anton Wijaya keluar dengan wajah merah padam. Ia mengomel sendiri sambil berjalan cepat menuju pos jaga. Fiki dan Pak Arif sontak berdiri, menghentikan permainan catur mereka.

"Fiki! Siapkan mobil sekarang!" perintah Anton Wijaya dengan suara bergetar menahan amarah. "Kita cari hotel! Malam ini saya tidak mau tidur di rumah!"

Fiki segera berlari mengambil kunci mobil. Tak lama kemudian, mobil mewah itu meluncur keluar dari gerbang. Di sepanjang perjalanan, Anton Wijaya tak henti-hentinya menggerutu. Ia tampak sangat kesal, dan Fiki hanya bisa diam mendengarkan.

"Kamu tahu, Fik?" ujar Anton Wijaya sambil menghela napas panjang. "Sudah 12 tahun saya menikah, tapi tidak juga dikaruniai anak. Saya sudah coba sabar, tapi sampai kapan? Saya juga butuh penerus."

Fiki meliriknya dari kaca spion, tak berani menanggapi. Ia hanya fokus menyetir.

"Saya sudah bosan," lanjut Anton Wijaya. "Makanya saya nikah lagi. Wajar kan? Istri saya itu cuma bisa marah-marah saja, padahal saya yang butuh keturunan. Saya tidak salah, kan, Fik?" tanya Anton Wijaya sambil menepuk pundak Fiki.

Fiki terkejut, namun dengan cepat ia merespons. "Iya, Pak," jawabnya singkat. Ia tahu, dalam situasi seperti ini, mengiyakan adalah pilihan terbaik. Anton Wijaya mengangguk-angguk, merasa pernyataannya disetujui. Ia kembali menggerutu, sementara Fiki terus menyetir dalam diam, mencari hotel yang bisa meredakan amarah majikannya malam itu.

Laju mobil Fiki berhenti di depan sebuah hotel mewah di pusat kota. Anton Wijaya segera turun, menyerahkan kunci mobil, dan berpesan, "Kamu pulang saja. Bereskan rumah. Sepertinya istriku sedang 'berkreasi'."

Fiki mengangguk dan segera memutar kemudi kembali ke rumah majikannya. Setibanya di sana, ia melihat Pak Arif menunggu di pos jaga. "Rumah berantakan ya, Fik?" tanya Pak Arif, seolah sudah tahu apa yang terjadi.

"Kayaknya lebih dari berantakan, Pak. Bapak Anton nyuruh saya bersihin semua," jawab Fiki.

Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Pemandangan di ruang tamu membuat mereka tertegun. Pecahan-pecahan kaca berserakan di mana-mana, menandakan amukan Helena yang begitu besar. Fiki dan Pak Arif segera mengambil sapu dan serokan, lalu mulai membersihkan sisa-sisa amarah itu.

Saat mereka berdua sedang sibuk, Fiki melihat ke arah dapur. Ia melihat Helena Wijaya duduk di salah satu kursi bar, menangis dalam diam. Di depannya, ada sebotol minuman dan beberapa gelas. Fiki dan Pak Arif saling berpandangan. Mereka merasa iba, namun tak berani mengganggu. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka, membiarkan Helena larut dalam kesedihannya, tersembunyi di balik kemewahan rumah yang kini terasa begitu kosong.

Fiki dan Pak Arif akhirnya selesai membersihkan pecahan kaca. Setelah rumah kembali rapi, mereka kembali duduk di pos jaga, melanjutkan pertandingan catur yang sempat tertunda. Suasana hening kembali menyelimuti, hanya terdengar suara bidak catur yang sesekali digeser.

Beberapa saat kemudian, pintu utama rumah terbuka. Helena Wijaya keluar dengan penampilan berbeda. Ia mengenakan baju tidur satin berwarna gelap yang memperlihatkan belahan dada, rambutnya terurai acak, dan wajahnya masih sembab. Di tangannya, ia membawa sebotol minuman dan dua bungkus rokok.

Helena melangkah perlahan mendekati pos jaga. Aroma alkohol yang samar tercium saat ia duduk di kursi kosong di samping Fiki. "Kalian suka minum?" tanyanya dengan suara serak. Fiki dan Pak Arif kompak menggeleng.

"Oh, baiklah," gumam Helena, menunduk. "Kalau rokok?"

Fiki dan Pak Arif saling pandang sejenak sebelum mengangguk pelan. Helena tersenyum tipis. "Ambilah," katanya sambil menyodorkan dua bungkus rokok itu. "Kalian main saja. Anggap saya tidak ada."

Fiki dan Pak Arif kembali melanjutkan catur mereka, namun konsentrasi mereka pecah. Helena mulai bercerita, suaranya pelan dan penuh kepiluan. Ia menceritakan bagaimana ia dan Anton menikah, bagaimana ia berusaha menjadi istri yang baik, dan bagaimana ia merasa semakin terasingkan. Sesekali ia menatap Fiki dan Pak Arif, seolah meminta persetujuan atas setiap kalimat yang ia ucapkan.

"Saya tahu, saya tidak bisa memberinya keturunan," ucapnya, suaranya bergetar. "Tapi apa harus sampai begini? Menikah lagi di belakang saya? Dia tidak pernah mencoba mengerti bagaimana perasaan saya..."

Fiki dan Pak Arif hanya bisa mengangguk dan bergumam "Iya, Bu..." Mereka tak punya kata-kata lain. Mereka hanya bisa menjadi pendengar, menyaksikan kesepian dan kesedihan seorang wanita yang terjebak dalam kemewahan, dan merasa canggung dengan situasi yang terjadi. Malam itu, di bawah remang lampu pos jaga, tiga orang yang berbeda status sosial itu berbagi satu keheningan, masing-masing dengan beban pikiran mereka sendiri.

suasana di pos jaga semakin canggung. Helena Wijaya terus mengoceh tentang suaminya, sementara Fiki dan Pak Arif hanya bisa mendengarkan. Tiba-tiba, mata Helena beralih dari Fiki ke Pak Arif. Tatapan tajamnya membuat Pak Arif salah tingkah, dan ia segera menunduk, pura-pura fokus pada bidak catur.

"Itu salah jalan, Pak," tegur Helena, menunjuk ke papan catur. "Kuda tidak bisa jalan seperti itu."

Pak Arif terkejut. Ia mengangkat kepala dan melihat langkahnya, menyadari bahwa Helena benar. Ia tersenyum malu, dan Helena membalas senyum itu dengan senyum tipis.

"Bagaimana kabar istri dan anak-anak, Pak?" tanya Helena, suaranya melembut. "Semua baik-baik saja, kan?"

Pak Arif mengangguk, merasa sedikit heran dengan pertanyaan itu. "Alhamdulillah, Bu, baik-baik saja," jawabnya.

Helena mengangguk, lalu pandangannya beralih ke Fiki. "Saya senang Bapak punya keluarga yang utuh. Jaga baik-baik, ya, Pak. Jangan sampai seperti suami saya."

Fiki dan Pak Arif saling pandang, terkejut dengan pernyataan Helena. Suasana kembali hening. Helena terdiam, menatap kosong ke arah langit malam. Kata-katanya terasa seperti sebuah peringatan, sebuah pesan yang menyiratkan kepedihan yang dalam. Fiki dan Pak Arif hanya bisa mengangguk, dan melanjutkan catur mereka, kali ini dengan perasaan yang semakin tidak enak. Mereka tahu, di balik kemewahan rumah itu, ada hati yang rapuh dan kesepian yang tersembunyi.

Selain cantik, Helena Wijaya memang dikenal sebagai majikan yang baik hati, terutama kepada Fiki dan Pak Arif. Selain gajih pokok, tak jarang ia memberikan uang lebih atau hadiah kecil. Namun, di balik kebaikannya, ada sifat angkuh yang terkadang muncul.

Malam itu, setelah ia selesai mengomel dan memberikan rokok, ia mengeluarkan dompet dari balik baju tidurnya. Ia mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan memberikannya pada Fiki. "Ini," katanya. "Beli makanan sana. Saya tahu kalian pasti lapar."

Fiki memandang uang itu dengan bingung. Ia tak tahu harus membeli apa, karena ia merasa tak sopan jika meninggalkan pos jaga. Helena melihat ekspresi itu. Ia mengernyitkan alisnya dan berkata, "Terserah kamu mau beli apa. Jangan bengong."

Setelah itu, ia melangkah masuk ke dalam rumah. Sebelum pintu tertutup, ia berbalik dan berkata, "Fiki, besok jangan sampai kesiangan. Antar saya menemui seseorang."

Fiki mengangguk. Ia tidak tahu siapa yang akan ditemui Helena. Namun, ia tidak berani bertanya. Ia hanya menyimpan uang itu di saku celananya dan melanjutkan catur bersama Pak Arif, dengan pikiran yang bercampur aduk.

Pagi itu, Fiki sudah siap di depan pintu rumah, menunggu Helena. Tepat pukul sembilan, Helena muncul. Kali ini ia mengenakan pakaian rapi, dress selutut berwarna merah yang memancarkan aura berbeda dari malam sebelumnya. Wajahnya terlihat tegar, namun matanya memancarkan kesedihan yang dalam.

"Kita ke rumah istri baru Bapak Anton," ujar Helena tanpa basa-basi, memecah keheningan di dalam mobil. Fiki terkejut, namun ia tak berani bertanya. Helena seolah tahu apa yang ada di pikiran Fiki, dan ia melanjutkan penjelasannya.

"Saya sudah tahu, Fik. Saya tidak marah kepada perempuan itu, saya marah kepada suami saya. Tapi saya harus bertemu dengannya, saya harus tahu seberapa jauh hubungan mereka," kata Helena, suaranya terdengar bergetar. Fiki merasa tidak enak hati, ia hanya bisa fokus menyetir, seolah-olah ia tidak mendengar apapun.

Mobil Fiki memasuki sebuah perumahan elite. Ia berhenti di depan rumah bernomor 25. Pagar rumah itu terbuka perlahan, dan seorang wanita muda, seumuran Fiki, keluar. Ia mengenakan dress santai dan tersenyum, namun senyum itu pudar saat melihat Helena.

"Mana suamiku?!" tanya Helena dengan suara lantang, mengagetkan Fiki dan wanita itu. "Di mana Anton?!"

Wanita muda itu terdiam, terlihat terkejut. "Maaf, Bu... Bapak Anton tidak ada di sini," jawabnya pelan.

"Bohong!" teriak Helena, membuat keributan di jalanan. "Saya tahu dia di sini! Keluar kalian berdua! Jangan main-main dengan saya!"

Suasana menjadi tegang. Fiki yang menyaksikan pertengkaran itu merasa bingung dan pusing. Ia memegang kepalanya, merasa terjebak dalam situasi yang sulit. Ia ingin pergi, namun ia tidak bisa meninggalkan majikannya begitu saja. Ia hanya bisa terdiam, menyaksikan drama yang semakin memanas.

Helena yang tadinya berniat untuk tenang, kini terbawa emosi. Wanita muda di hadapannya terlalu bertele-tele dan tampak membela diri, membuat amarah Helena memuncak.

"Saya tanya di mana suami saya?! Jangan pura-pura tidak tahu!" teriak Helena, membuat wanita muda itu mundur beberapa langkah. "Kamu pikir saya bodoh? Suami saya tidak pulang tadi malam, dan mobilnya ada di depan rumah ini!"

Tiba-tiba, sebuah taksi berhenti di depan rumah itu. Anton Wijaya turun dari taksi, tampak terkejut melihat keributan di depan rumah istri keduanya. "Ada apa ini?!" serunya, berlari menghampiri mereka.

Helena langsung mengalihkan amarahnya kepada suaminya. "Jadi benar kamu di sini?! Kamu selingkuh, Anton! Kamu selingkuh!" teriak Helena, air matanya mulai menetes. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin memukul Anton Wijaya.

Anton Wijaya dengan sigap menahan tangan Helena, lalu berteriak kepada Fiki, "Fiki! Pegang tangan helena!" Fiki panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Namun, karena perintah majikannya, ia meraih tangan Helena.

Helena terdiam, dan perlahan-lahan ia menangis. Ia menunduk, air matanya membasahi pipinya. Anton Wijaya memarahi Helena, "Kamu ini kenapa, Helena?! Berhenti berbuat kekacauan! Kamu mempermalukan saya!"

Fiki merasa tidak nyaman. Ia menatap Helena yang menangis, lalu Anton Wijaya yang marah-marah. Ia merasa terjebak di tengah-tengah pertengkaran rumah tangga yang begitu rumit. Ia hanya bisa menunduk, berharap situasi ini segera berakhir.

"Pulang sekarang! Fiki, bawa istriku pulang!" teriak Anton Wijaya, suaranya dipenuhi kemarahan. Ia menunjuk Helena, lalu menyuruh Fiki untuk membawanya pergi. Tanpa banyak bicara, Fiki segera mendekati Helena.

"Ayo, Bu," bisik Fiki dengan hati-hati. "Kita pulang saja."

Helena masih menangis tersedu-sedu, menunduk, dan tidak bergerak. Fiki tahu ia tidak bisa memaksa. Ia menunggu, membiarkan Helena meluapkan perasaannya sejenak. Beberapa menit kemudian, Helena mengangkat kepalanya, air mata masih membasahi wajahnya. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan pelan menuju mobil.

Fiki setengah berlari mendahului Helena untuk membukakan pintu mobil. Setelah Helena duduk, ia segera masuk dan melajukan mobilnya. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu berat. Fiki masih merasa bingung dan panik. Ia melirik Helena dari kaca spion, melihat wanita itu masih menangis tanpa suara.

"Ini, Bu," kata Fiki, menyodorkan sekotak tisu yang selalu tersedia di mobil. Helena mengambilnya dengan kasar, menyeka air matanya, lalu membuang tisunya ke lantai mobil. Ia tidak berbicara, hanya menangis, membuat Fiki semakin merasa tidak nyaman. Ia hanya bisa diam dan fokus menyetir, berharap perjalanan pulang ini segera berakhir.

Tiba di rumah, Helena langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu kamar tertutup rapat, seolah mengisolasi dirinya dari dunia luar. Fiki dan Pak Arif hanya bisa terdiam di pos jaga, merasa canggung dan bingung dengan situasi yang terjadi.

Sore hari, Bi Minah, salah satu pekerja rumah tangga yang bertugas membersihkan dan memasak, mengetuk pintu kamar Helena. "Nyonya, makanannya sudah siap," panggil Bi Minah dengan suara pelan.

Pintu terbuka, dan Helena keluar dengan wajah kusut. Matanya masih sembab, menunjukkan sisa-sisa tangisan yang tak kunjung berhenti. "Ada apa, Bi?" tanyanya dengan suara serak.

"Itu Nyonya, makanannya sudah siap. Bi Minah masak banyak hari ini," jawab Bi Minah sambil menunduk.

Helena berjalan menuju dapur. Alangkah terkejutnya ia melihat meja makan yang dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat. Ada rendang, gulai, sayur lodeh, dan banyak lagi. Porsi yang dimasak jauh lebih banyak dari biasanya.

Helena menghela napas panjang. Ia tahu suaminya tidak akan pulang. Ia lalu menoleh ke arah Fiki dan Pak Arif yang masih berada di pos jaga. "Fiki! Pak Arif! Sini kalian!" panggilnya.

Mereka berdua bergegas menghampiri Helena. "Kalian makan saja," kata Helena. "Bapak Anton tidak akan pulang. Makanan ini terlalu banyak jika hanya saya yang makan."

Fiki dan Pak Arif saling pandang. Mereka merasa canggung, namun tidak berani menolak. Mereka duduk di meja makan, mencoba menikmati hidangan lezat itu. Di sisi lain, Helena hanya duduk terdiam, memandang mereka makan, tanpa menyentuh makanannya sendiri. Ia merasa sepi, dikelilingi oleh hidangan lezat dan para pekerjanya, namun tanpa kehadiran suaminya.

Helena bangkit dari duduknya, meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanannya sama sekali. Ia menoleh ke arah Bi Minah, suaranya terdengar pelan. "Bi, nanti makanan saya dibawa ke kamar saja, ya?"

Bi Minah hanya mengangguk, matanya menunjukkan rasa kasihan. Fiki dan Pak Arif, yang masih duduk di meja makan, juga merasa iba. Mereka tahu di balik sifat angkuh Helena, ada hati yang rapuh dan kesepian yang tersembunyi. Mereka melanjutkan makan dalam diam, namun pikiran mereka dipenuhi dengan kepedihan Helena. Bi Minah, yang sibuk di dapur, hanya bisa menghela napas panjang. "Kasihan sekali Nyonya..." gumamnya pelan. "Padahal makanannya enak sekali."

Malam itu, kemewahan rumah Anton Wijaya terasa begitu kosong. Hidangan lezat di meja makan, yang seharusnya dinikmati bersama, kini menjadi saksi bisu dari kesepian Helena.

Satu minggu berlalu. Kehadiran Anton Wijaya di rumah itu seolah lenyap ditelan bumi. Helena benar-benar terpuruk. Ia hanya sesekali keluar kamar saat pagi hari, menyiram bunga-bunga di taman dengan langkah gontai. Terkadang, ia ikut nongkrong di pos jaga bersama Fiki, Pak Arif, dan Bi Minah, tapi itu pun hanya beberapa menit. Ia lebih sering terlihat melamun di balkon, menatap kosong ke kejauhan sambil menghisap rokok.

Suatu sore, sebuah taksi berhenti di depan gerbang. Anton Wijaya keluar dari mobil itu. Fiki dan Pak Arif sontak berdiri, menyambut kedatangan majikannya. "Pak Anton!" sapa Fiki dengan ramah. "Sudah lama tidak kelihatan, Pak."

Anton Wijaya hanya tersenyum tipis. Ia berjalan masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi, kali ini dengan tas yang lebih besar dari biasanya. Ia kembali menyapa Fiki dan Pak Arif, senyumnya kali ini terasa lebih hambar.

"Pak Anton, kapan akan kembali ke sini lagi?" tanya Fiki, tak bisa menahan rasa penasaran.

Anton Wijaya menoleh, tersenyum kecil. "Entahlah, Fiki," jawabnya. "Kalian di sini saja ya, jaga rumah. Nanti gaji saya tambahin."

Setelah mengatakan itu, ia melangkah masuk ke dalam mobil taksi yang menunggunya. Mobil  melaju perlahan, meninggalkan rumah mewah itu dengan kesunyian yang terasa lebih pekat dari sebelumnya. Fiki dan Pak Arif hanya bisa terdiam, memandang kepergian Anton Wijaya dengan tatapan penuh tanya. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres, seolah-olah Anton Wijaya baru saja mengucapkan perpisahan, bukan sekadar pamit untuk pergi sebentar.


Tepat pukul sembilan malam, pintu utama rumah terbuka. Helena keluar, berjalan perlahan ke arah pos jaga. Fiki yang melihatnya segera bangkit dari duduknya. Namun, Helena tidak langsung berbicara. Ia berdiri diam sejenak, menatap kosong ke arah jalanan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Fiki," panggilnya, suaranya pelan. "Antar saya keluar."

Fiki mengangguk. Tanpa banyak bertanya, ia segera mengambil kunci mobil. Ia membuka pintu mobil untuk Helena, dan wanita itu masuk, duduk di kursi belakang. Fiki masuk ke kursi kemudi, dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang.

"Mau ke mana, Bu?" tanya Fiki, memecah keheningan.

Helena terdiam sejenak. "Jalan saja dulu, Fik," jawabnya pelan. "Saya cuma ingin melihat-lihat. Sudah lama saya tidak keluar malam."

Fiki hanya mengiyakan. Ia melajukan mobilnya, membelah jalanan kota yang ramai. Ia tidak tahu ke mana tujuannya, namun ia hanya mengikuti perintah majikannya. Di dalam mobil, Helena hanya diam, memandang keluar jendela, membiarkan pikirannya berkelana. Fiki merasa tidak nyaman, namun ia hanya bisa menyetir, berharap Helena akan memberitahunya ke mana tujuan mereka.

Sepanjang perjalanan, Fiki bertanya-tanya dalam hati, "Mau ke mana, Bu Helena?" Helena yang duduk di belakang tampak anggun dan misterius malam itu. Dengan balutan dress biru yang menawan dan tas bermerek yang bertengger di pangkuannya, ia tidak lagi terlihat seperti wanita yang menangis dan terpuruk. Kini, ia memancarkan aura ketegasan dan tekad yang kuat.

Fiki sesekali meliriknya dari kaca spion, mencoba mencari petunjuk. Namun, Helena hanya diam, matanya menatap lurus ke depan, seolah-olah ia sudah tahu ke mana tujuannya, namun belum siap untuk mengucapkannya. Fiki hanya bisa menghela napas, mengikuti arus jalanan ibu kota, menunggu instruksi selanjutnya dari majikannya.

Mobil melaju menuju arah selatan kota, menembus keramaian malam Jakarta. Fiki merasa semakin tidak yakin dengan tujuannya. Ia terus menyetir, mengikuti nalurinya. Hingga akhirnya, Helena meminta mobil berhenti di depan sebuah klub malam yang ramai. Lampu-lampu diskotik berkedip-kedip, mengundang setiap orang yang lewat untuk masuk ke dalamnya.

Di depan pintu klub, sudah ada sekelompok orang yang menunggu. Fiki bisa melihat empat orang wanita dan dua orang laki-laki. Mereka tampak anggun dan berkelas, seolah-olah klub malam itu adalah tempat kedua mereka setelah rumah mewah. Helena menepuk pundak Fiki, ia menoleh ke arah majikannya. "Saya masuk dulu," katanya. "Kamu tunggu saja di sini."

Helena memberikan beberapa lembar uang kepada Fiki. "Ini," katanya. "Buat beli rokok atau minuman. Jangan kemana-mana."

Fiki mengangguk, menerima uang itu. Helena lalu keluar dari mobil, berjalan anggun menuju teman-temannya. Fiki melihat mereka berpelukan dan tertawa, seolah sudah lama tidak bertemu. Fiki yakin, mereka adalah teman-teman Helena yang selama ini jarang ia lihat. Malam itu, di luar klub malam yang ramai, Fiki hanya bisa duduk diam di dalam mobil, menatap ke arah keramaian, dengan pikiran yang semakin bingung dan bertanya-tanya.

Jam dinding mobil menunjukkan pukul dua belas malam. Fiki yang sudah kelelahan menyandar di kursi kemudi, matanya sesekali terpejam. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, ia tidak berani beranjak dari tempatnya.

Tiba-tiba, kaca mobil diketuk. Seorang laki-laki berdiri di samping mobil, wajahnya tampak asing. "Bos saya di dalam," katanya. "Dia titip pesan, katanya kamu boleh pulang."

Fiki terkejut. Ia tidak tahu siapa laki-laki itu. "Siapa bosmu?" tanyanya, ragu.

"Dia yang pakai dress biru, Bu Helena," jawab laki-laki itu. "Dia titip kunci mobilnya, katanya kamu boleh istirahat."

Fiki mengangguk, menerima kunci mobil. Ia keluar dari mobil, merasa aneh dengan situasi ini. Ia berjalan menuju pintu klub, namun ia tidak berani masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu, mencoba melihat ke dalam. Pemandangan di dalamnya membuat ia terkejut. Helena terlihat sedang menari bersama teman-temannya. Ia tampak bahagia, seolah tidak ada masalah sama sekali.

Fiki merasa ada yang tidak beres. Ia kembali ke mobil, menatap kunci yang dipegangnya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin pulang, namun ia merasa tidak enak hati meninggalkan Helena sendirian. Ia hanya bisa duduk di dalam mobil, menatap kosong ke arah klub, dengan pikiran yang semakin bingung.

Di tengah kebingungannya, ponsel Fiki berdering. Nama "Bu Helena" muncul di layar. Dengan cepat, Fiki mengangkatnya.

"Fiki, aku di toilet," suara Helena terdengar lirih, nyaris tak terdengar di antara dentuman musik. "Tolong kamu masuk. Ajak sekuriti."

Fiki segera bergegas menghampiri petugas keamanan klub malam yang berjaga di pintu. Setelah menjelaskan situasinya, ia pun diizinkan masuk bersama salah satu sekuriti. Mereka berdua menerobos kerumunan orang yang menari, melewati labirin cahaya lampu disko dan dentuman musik DJ yang memekakkan telinga.

Mereka akhirnya tiba di depan toilet. Helena sudah menunggu di sana, berdiri mematung dengan wajah pucat. Ia langsung menjelaskan situasinya kepada sekuriti dengan suara gemetar, "Teman-teman saya memaksa saya ikut ke apartemen mereka. Saya tidak mau."

Sekuriti itu mengangguk paham. Tanpa banyak bicara, ia menuntun Helena dan Fiki menuju pintu keluar rahasia di belakang klub, menghindari kerumunan. Saat mereka keluar dan berada di area parkir yang lebih sepi, Helena menyentuh pundak Fiki. "Fiki, tolong pegangi aku. Kepalaku pusing sekali."

Fiki segera merangkul Helena, membantunya berjalan menuju mobil. Saat Helena sudah duduk di kursi penumpang, ia menghela napas lega. Fiki pun masuk ke kursi kemudi, menanyakan kondisinya.

"Kamu baik-baik saja, Bu?" tanya Fiki, khawatir.

Helena menoleh, matanya masih tampak lelah. "Aku baik-baik saja, Fik," katanya, suaranya kembali normal. "Tadi, teman-temanku mengajakku untuk 'pesta' di apartemen mereka. Mereka semua sudah minum dan memakai narkoba. Aku tidak mau ikut."

Fiki terkejut. Ia tidak menyangka majikannya terjebak dalam situasi seperti itu. Helena melanjutkan ceritanya, "Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Fik. Semua orang di sekelilingku seperti punya dunia masing-masing. Aku hanya ingin pergi dari sini."

Fiki hanya bisa diam. Ia menyalakan mesin mobil, meninggalkan klub malam yang penuh dengan gemerlap kegelapan di belakang mereka. Di perjalanan pulang, Fiki tidak lagi merasa bingung. Ia tahu bahwa di balik penampilan Helena yang kuat dan berwibawa, ada seorang wanita yang kesepian dan mencari jalan keluar dari masalahnya.

Fiki menoleh ke belakang, menatap Helena dari kaca spion. "Apa langsung pulang, Bu?" tanyanya hati-hati.

Helena menggeleng. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi matanya memancarkan tekad. "Tidak, Fik. Saya mau ke pantai."

Fiki ragu sejenak. "Tapi, Bu, ini sudah malam sekali," katanya. "Nanti di jalan..."

"Cerewet amat sih kamu," potong Helena, suaranya sedikit meninggi. Ia cemberut. "Kamu dibayar untuk mengantar saya. Bila perlu, gaji kamu akan saya naikkan dua kali lipat."

Fiki terdiam. Ia segera meminta maaf. "Maaf, Bu." Ia tahu tidak ada gunanya membantah. "Pantai mana, Bu?"

"Ke pantai yang sepi, Fik. Yang tidak ada orang. Saya hanya ingin duduk dan mendengarkan suara ombak," jawab Helena. Fiki mengangguk mengerti. Ia pun mengarahkan mobilnya ke arah utara, menuju salah satu pantai yang terkenal sepi di pinggiran Jakarta, berharap suara deburan ombak bisa menenangkan hati majikannya.

Setibanya di pantai, keheningan menyambut mereka. Fiki memarkirkan mobil di area yang sepi. Angin malam berhembus, membawa serta aroma asin air laut. Helena turun dari mobil. Dari dalam tas bermereknya, ia mengeluarkan sebotol minuman keras. Fiki melihatnya, tapi tak berani berkomentar.

"Kamu tunggu saja di sini," ujar Helena, suaranya tenang namun dingin. Ia lalu berjalan sendiri menuju pasir, membiarkan ombak menyentuh kakinya. Fiki hanya bisa memperhatikan dari jauh. Ia melihat Helena duduk di atas pasir, memeluk lututnya, dan menatap kosong ke lautan. Sesekali, ia meneguk minumannya, lalu membuang pandangannya jauh ke lepas pantai. Fiki tidak tahu apa yang ada di pikiran majikannya. Namun, dari raut wajahnya, Fiki tahu bahwa Helena tidak hanya sedang menatap ombak, tapi juga sedang menatap kehidupannya yang berantakan.

Lima belas menit berlalu. Helena masih duduk sendirian di atas pasir, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Tiba-tiba, ia melambaikan tangannya ke arah Fiki. Tanpa pikir panjang, Fiki berlari mendekat. Ia melihat Helena sudah hampir menghabiskan minumannya.

"Kamu punya rokok?" tanya Helena, suaranya parau. Fiki mengangguk. Ia merogoh saku, mengeluarkan bungkus rokok dari dalam. Fiki menyalakan rokok itu, lalu menyerahkannya kepada Helena. Ia hendak berbalik, memberi ruang bagi majikannya, namun Helena memanggilnya.

"Kamu di sini saja, Fik," kata Helena. Fiki pun duduk di sampingnya, menjaga jarak. Keheningan kembali melingkupi mereka, hanya terdengar suara deburan ombak dan embusan angin malam. Fiki tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa duduk diam, menemani Helena yang tampak begitu kesepian. Ia menyadari, di balik kemewahan dan keglamoran hidup Helena, ada kehampaan yang tak bisa diisi dengan harta benda. Malam itu, di bawah rembulan, Fiki menjadi saksi bisu dari kesepian seorang wanita yang sedang mencari ketenangan di tengah badai kehidupannya.

Helena mengambil sebatang rokok dari bungkus yang Fiki berikan, lalu menghisapnya dalam-dalam. Asap rokok itu mengepul, terbang bersama angin malam yang berhembus. Fiki duduk diam di sampingnya, menjaga jarak yang sopan. Sesekali, angin berhembus lebih kencang, membawa aroma parfum mewah dari tubuh Helena yang begitu lembut, bercampur dengan aroma asin air laut. Aroma yang begitu mahal, namun terasa begitu dingin dan hampa, seolah-olah aroma itu adalah satu-satunya hal yang tersisa dari kehidupan mewahnya yang kini berantakan.

Helena menatap kosong ke lautan, lalu menoleh ke arah Fiki. "Kamu tahu, Fik," katanya dengan suara parau. "Suami saya bilang, saya tidak bisa memberinya anak. Tapi dia lupa, saya sudah memberikan segalanya untuk dia. Waktu, tenaga, bahkan hati saya."

Helena menghela napas panjang, menatap rokok yang masih tersisa di tangannya. Ia kembali berbicara, suaranya terdengar lebih pelan, seolah sedang menceritakan sebuah dongeng pahit. "Fiki, kamu tahu? Dulu, suamiku itu hanya karyawan di perusahaan ayahku. Dia bukan siapa-siapa. Tapi, dia rajin dan pekerja keras. Ayahku melihat itu, dan akhirnya menjodohkan kami."

Fiki mendengarkan dengan seksama, tak berani menyela. Ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam di setiap kata yang diucapkan Helena.

"Sebelum menikah, dia tidak punya apa-apa. Semuanya berkat ayahku. Tapi sekarang... ia malah berbuat seperti ini," lanjut Helena, suaranya bergetar. "Menurutmu, salahku di mana, Fik? Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, tapi kenapa ini semua harus terjadi?"

Helena menoleh ke arah Fiki, matanya dipenuhi dengan air mata. Fiki bingung harus berkata apa. Ia tidak tahu bagaimana harus memberikan nasihat kepada majikannya. Namun, ia merasa simpati yang mendalam.

"Saya... saya juga menyayangkan keputusan Pak Anton, Bu," jawab Fiki dengan suara pelan. "Ibu sudah berbuat yang terbaik, saya yakin."

Helena mengangguk pelan, air matanya menetes lagi. Ia menatap Fiki, menanti kelanjutan ucapan sopirnya.

"Tapi Bu," Fiki memberanikan diri melanjutkan, "ada orang yang punya anak tapi gak punya harta, hidupnya susah. Ada juga yang gak punya anak tapi punya banyak harta. Dan ada juga yang punya anak dan punya harta." Fiki menghela napas. "Tapi apakah semua itu bisa menjamin kebahagiaan, Bu?"

Helena menoleh, matanya menatap Fiki. Helena terdiam, menatap Fiki dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Ia tak menyangka, Fiki, sopirnya yang selama ini ia kenal pendiam, bisa mengucapkan kata-kata yang begitu dalam. Kata-kata itu menusuk hatinya, namun juga menghangatkan. Ia mengangguk pelan, air mata kembali mengalir. Kali ini, air matanya bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan. Ia merasa, malam itu, ia tidak sendirian. Ia merasa, ada seseorang yang mengerti perasaannya, tanpa perlu ia jelaskan. Fiki benar, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan harta atau anak. Kehidupan Helena adalah bukti nyata. Ia punya segalanya, namun hatinya hampa. Ia punya suami, namun suaminya tidak setia. Ia ingin anak, namun tidak bisa memilikinya.

Hati Helena tersentuh oleh ucapan Fiki. Perlahan, ia menggeser duduknya, memberi isyarat agar Fiki mendekat. Fiki yang tadinya duduk dengan jarak sopan, merasa bingung. Namun, ia menurut, khawatir Helena akan marah jika ia menolak.

Saat Fiki sudah cukup dekat, tanpa diduga, Helena memeluknya erat. Tangisnya yang tertahan sejak tadi malam pecah. Ia membenamkan wajahnya di dada Fiki, menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua kekecewaan dan kesedihan yang selama ini ia pendam sendirian. Fiki terdiam, kaku, bingung harus berbuat apa. Namun, ia tidak menolak. Ia membiarkan Helena menangis. Di tengah isak tangis Helena, Fiki bisa merasakan kehangatan tubuhnya dan mencium aroma parfum mewah yang begitu khas.

Fiki ikut meneteskan air mata. Ia tidak tahu mengapa, namun ia merasa bisa memahami perasaan Helena. "Bu... Bu Helena," bisiknya lirih, mencoba menenangkan. Ia mengusap punggung Helena perlahan, mencoba memberikan kenyamanan. Dalam pelukan Helena, Fiki merasakan gejolak aneh. Naluri kelelakiannya tergoda. Tubuhnya terasa panas dingin, keringat dingin membasahi pelipisnya. Aroma parfum mewah Helena, yang kini begitu dekat, memabukkan indranya. Ia ingin melepaskan pelukan itu, menjauhkan dirinya dari godaan yang begitu kuat. Namun, ia menyadari posisinya. Ia sadar, ia hanyalah seorang sopir. Helena bukan siapa-siapanya, kecuali majikannya. Fiki menahan diri, membiarkan Helena menangis. Ia hanya bisa menenangkan dirinya sendiri, dan mencoba untuk tetap tenang.

Perlahan, tangis Helena mulai mereda. Ia melepaskan pelukannya, menatap Fiki dengan mata sembab. "Maaf, Fik," bisiknya. "Aku tidak bermaksud..."

Fiki hanya mengangguk, menyeka air mata yang ikut menetes di pipinya. Helena tersenyum tipis, senyum pertama yang Fiki lihat sejak sore tadi. "Lho, kok kamu jadi ikut menangis?" tanyanya.

Fiki mengangguk, "Iya, Bu. Saya... saya jadi ikut terharu." Helena tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih tulus. Ia menatap Fiki, seolah melihatnya dengan mata yang berbeda. Fiki, yang selama ini hanya ia anggap sebagai sopir, kini ia lihat sebagai seorang teman, seorang pendengar yang setia, yang bersedia berbagi kesedihannya. 

Helena melihat jam di ponselnya. Pukul empat subuh. Ia terkejut, tak menyangka waktu berlalu begitu cepat. "Ayo, Fik. Kita pulang sekarang," ucapnya, suaranya terdengar lebih tenang.

Fiki segera mengangguk, lalu melajukan mobilnya membelah jalanan sepi di pagi buta. Sepanjang perjalanan, Fiki sesekali meneteskan air mata. Helena yang melihatnya merasa heran. "Kamu kenapa, Fik? Kok menangis?" tanyanya lembut.

Jawaban Fiki di luar dugaan. "Entahlah, Bu," ucap Fiki dengan suara bergetar. "Mungkin... rasanya seperti itu ya, di peluk seorang ibu."

Helena terkejut mendengar jawaban itu. "Kamu belum pernah dipeluk ibumu?"

"Ibu saya meninggal waktu saya masih umur tiga tahun, Bu," jawab Fiki, air matanya kembali mengalir.

Helena mengangguk-angguk, mengerti. Ia terdiam sejenak, lalu menatap Fiki. "Saya juga... mungkin rasanya memeluk anak seperti itu," gumamnya, suaranya terdengar pilu.

Fiki terdiam, tak bisa berkata-kata. Helena, yang selalu blak-blakan, tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat Fiki terkejut. "Ya sudah," katanya dengan mudah. "Kita jadi ibu dan anak saja."

Fiki menoleh, menatap Helena dengan mata terbelalak. Ia tak menyangka majikannya bisa mengucapkan hal seperti itu. Fiki tersenyum, sebuah senyum yang tulus. Helena pun tersenyum, seolah-olah ia telah menemukan sesuatu yang hilang dalam hidupnya

"Ah, jangan, Bu," kata Fiki ragu, suaranya terdengar cemas.

Helena menoleh, mengerutkan dahi. "Kenapa, Fik? Kamu tidak mau?"

"Bukan begitu, Bu," jawab Fiki, menunduk malu. "Ibu terlalu cantik. Nanti orang-orang bingung, kok saya punya ibu cantik sekali."

Helena tertawa, tawa pertama yang tulus sejak Fiki mengenalnya. "Memangnya kenapa? Justru kamu harus bangga punya ibu cantik. Namanya juga anak angkat."

"Ibu... Ibu serius?" tanya Fiki, matanya berbinar.

"Serius, Fik.

Fiki tersenyum lebar, hatinya terasa hangat. Namun, senyumnya langsung pudar ketika ia teringat sesuatu. "Tapi... nanti Pak Anton marah."

Helena menghela napas. "Biarkan saja dia marah. Dia juga punya istri lagi tidak bilang-bilang. Lagipula, saya mengangkat kamu jadi anak, bukan jadi suami."

Fiki terdiam. Kata-kata Helena itu memberinya keberanian. Ia mengangguk pelan, seolah-olah ia telah menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Mulai sekarang, ia memiliki ibu, sebuah keluarga baru, dan sebuah tempat yang bisa ia sebut rumah.

"Rasanya kayak mimpi, Bu," bisik Fiki, suaranya dipenuhi rasa tak percaya. Ia menoleh ke belakang, menatap Helena dengan mata berkaca-kaca.

"Ini beneran, Fiki," jawab Helena, tersenyum lembut. Tiba-tiba, tanpa diduga, ia mendekat dan mengecup pipi Fiki dari belakang. "Oh, ini rasanya mencium anak," gumamnya, senyumnya semakin lebar.

Fiki terkejut, tubuhnya bergidik. Namun, ia tak menolak. Helena seolah mengerti, ia lalu bertanya, "Kamu punya pacar, Fik?"

"Ada, Bu. Di kampung. Tahun depan rencananya mau menikah," jawab Fiki.

" ah yang bener kamu?", Helena tak percaya.

" Beneran bu". jawab fiki.

"Awas, jangan bilang ke pacarmu kalau aku mencium dan memeluk kamu, ya?" goda Helena.

Fiki tertawa kecil. "Enggak apa-apa, Bu. Kan sekarang kita sudah ibu dan anak."

Helena ikut tertawa. "Iya juga, ya," katanya. "Nanti bilang ke pacarmu, mau mas kawin apa. Aku yang biayain pernikahan kamu. Kalau perlu, setelah menikah, bawa dia ke sini supaya kalian tidak bolak-balik. Tapi, kamu harus tetap jadi sopir ibu."

Fiki mengangguk, senyum sumringah tak bisa ia sembunyikan. "Siap, Bu!" jawabnya penuh semangat. Hatinya dipenuhi rasa haru. Ia tak hanya mendapatkan pekerjaan yang layak, tapi juga sebuah keluarga baru. Ia tahu, hidupnya akan berubah, dan ia siap menyambutnya. helena tersenyum ia kembali memeluk fiki dari belakang, " akhirnya aku punya anak dan langsung punya menantu ", kata helena.

Posting Komentar untuk "Ku Ikuti kemauan istri bosku"