Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dia Selalu Bersamaku Ketika Suaminya Pergi


Arianti Nuraini, perempuan asal Jawa Barat, memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah empat tahun mencoba peruntungan di Jakarta. Selama ini, ia dan suaminya, Rudi Herianto yang berasal dari Jawa Timur, merasa terhimpit oleh kerasnya ibu kota. Biaya sewa kontrakan yang terus melambung dan kebutuhan sehari-hari yang tak pernah surut membuat impian mereka untuk hidup lebih baik terasa semakin jauh.

Keputusan ini diambil setelah orang tua Arianti yang kini menjadi transmigran di Sulawesi menawarkan rumah warisan mereka di kampung untuk ditinggali. Bagi Arianti, ini adalah kesempatan emas untuk memulai hidup baru tanpa beban sewa yang mencekik. Ia membayangkan bisa menata ulang rumah itu, menanam sayuran di pekarangan, dan hidup lebih tenteram di desa.

Namun, keputusan ini juga membawa konsekuensi pahit. Arianti harus berpisah sementara dengan Rudi. Rudi, yang sudah mendapatkan pekerjaan tetap di Jakarta, tak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaannya. Ia hanya bisa menemani Arianti selama dua hari di kampung untuk membantu merapikan rumah dan memastikan istrinya aman sebelum kembali berjuang di ibu kota.

Dua hari terasa begitu singkat. Arianti dan Rudi menghabiskan waktu dengan membersihkan setiap sudut rumah, memperbaiki atap yang bocor, dan menata perabotan sederhana. Di tengah lelahnya bekerja, mereka tak henti-hentinya bertukar cerita dan mimpi. Arianti berjanji akan menjaga rumah itu dengan baik, sementara Rudi berjanji akan bekerja keras agar mereka bisa kembali berkumpul suatu hari nanti.

Saat hari perpisahan tiba, Ariana memeluk erat Rudi, suaminya yang rela berkorban demi masa depan mereka. "Jaga dirimu baik-baik, Mas," bisiknya lirih. Rudi mengangguk, mengusap air mata Arianti, dan berjanji untuk menelepon setiap hari. Kepergian Rudi menyisakan sepi, tetapi juga memupuk harapan di hati Arianti. Ia tahu, jarak ini hanyalah ujian kecil yang harus mereka lewati. Ia akan memulai hidup barunya, menjaga rumah warisan, dan menanti kepulangan sang suami dengan penuh cinta.

Arianti tiba di desa dengan perasaan campur aduk. Rumah warisan orang tuanya berada di sebuah dusun yang sunyi, jauh dari keramaian. Hanya ada lima belas keluarga yang tinggal di sana, sisanya adalah hamparan kebun dan sawah yang membentang luas. Kehidupan di dusun itu begitu kontras dengan hiruk pikuk Jakarta. Di sini, suara klakson dan deru mesin berganti dengan kicauan burung, gemericik air sungai, dan gesekan daun kelapa yang tertiup angin.

Pada malam pertama, Arianti sempat merasa ketakutan. Suara jangkrik dan kodok yang bersahutan terasa begitu asing di telinganya. Namun, setelah beberapa hari, ia mulai menikmati kesunyian itu. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, merenungi setiap langkah hidupnya, dan merasakan kedamaian yang tak pernah ia temukan di Jakarta. Ia pun mulai berinteraksi dengan para tetangga, yang semuanya menyambutnya dengan hangat. Mereka adalah orang-orang sederhana yang hidup dari hasil kebun dan sawah. Arianti belajar menanam singkong, merawat pohon pepaya, dan memanen kacang-kacangan.

Meskipun kesepian terkadang datang, terutama saat merindukan Rudi, Arianti tak pernah menyerah. Ia yakin, kesunyian ini adalah bagian dari takdirnya. Ia akan menjadikannya kekuatan untuk menata kembali hidupnya, menumbuhkan harapan, dan menunggu kepulangan sang suami. Rumah ini bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga saksi bisu perjuangannya meniti asa di antara hamparan kebun dan sawah yang sunyi.

Beberapa minggu berlalu. Arianti mulai terbiasa dengan kehidupan di dusun. Namun, ada satu masalah yang kini dihadapinya: persediaan bumbu dapur, deterjen, sabun mandi, hingga kosmetik miliknya mulai menipis. Barang-barang itu tak bisa didapat di dusun. Satu-satunya tempat untuk membelinya adalah pasar di desa sebelah yang jaraknya sekitar lima kilometer. Arianti tak punya kendaraan. Ia merasa bimbang.

Tiba-tiba, ia teringat pada Lukman, teman masa kecilnya. Usianya lima tahun lebih muda dari Arianti. Saat Arianti menikah dan merantau ke Jakarta, Lukman masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Rumahnya hanya berjarak 20 meter dari rumah warisan Arianti, berada di pojok dusun, persis di pinggir sawah. Lukman adalah anak dari Pak Kosim dan Bu Maesaroh. Ia punya seorang adik perempuan dan satu lagi adik bungsu laki-laki.

Arianti pun memutuskan untuk mencoba peruntungannya. Ia melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak menuju rumah Lukman. Sesampainya di sana, ia disambut hangat oleh Bu Maesaroh. 

"Ya Allah, Neng Yanti, kapan pulang? Sama Mas Rudi?" tanya Bu Maesaroh sambil memeluk Arianti erat.

"Aku baru dua minggu di sini, Bu," jawab Arianti. "Mas Rudi cuma nginep dua hari, udah berangkat lagi ke Jakarta."

Bu Maesaroh mengangguk mengerti, raut wajahnya berubah iba. "Oh, kerja lagi, ya."

"Iya, Bu," sahut Arianti. Ia tersenyum canggung saat Bu Maesaroh memujinya, "Makin cantik aja, Neng Yanti." Arianti lantas melanjutkan dengan ragu, "Lukman ada, Bu? Saya pengen dianter ke pasar. Nanti saya kasih uang bensin."

Bu Maesaroh tersenyum ramah. "Oh, ada-ada," katanya. Ia kemudian memanggil putranya.

Tak lama, Lukman muncul dari dalam rumah. Wajahnya berseri-seri melihat kedatangan Arianti. "Teh Arianti! Kapan datang?" sapanya dengan suara bersemangat. Arianti terkejut. Lukman, teman masa kecilnya yang dulu masih bocah, kini sudah tumbuh dewasa. Ia berdiri tegap di hadapannya, tak lagi seperti anak kecil yang sering ia ajak bermain.

Arianti menepuk-nepuk pundak Lukman, tak henti-hentinya bercerita tentang betapa terkejutnya melihat Lukman kini sudah dewasa. Bu Maesaroh hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, merasa senang melihat mereka kembali akrab.

Setelah puas mengenang masa lalu, Arianti akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya. "Lukman, Teh Yanti minta tolong, ya. Besok bisa antar ke pasar? Stok bumbu dapur sama sabun sudah habis. Nanti Teh Yanti kasih uang bensin."

Lukman tersenyum lebar. "Jangan begitu, Teh. Aku yang minta diizinkan mengantar. Besok pagi-pagi aku jemput, ya. Soal bensin, enggak usah dipikirkan. Anggap saja hadiah karena Teh Yanti sudah pulang."

"Ih, jangan begitu, Lukman. Kasih uang bensinnya. Ini jauh lho ke pasar," Arianti bersikeras.

"Sudah, Teh, ikhlas kok. Lagipula, Teh Yanti kan sudah lama enggak di sini. Aku senang bisa bantu," jawab Lukman, menolak dengan sopan namun tegas.

Arianti terdiam, merasa terharu dengan ketulusan Lukman. Ia akhirnya mengangguk, menerima kebaikan hati itu. "Terima kasih banyak, ya, Lukman. Terima kasih juga, Bu," ujarnya sambil menyalami Bu Maesaroh. Hatinya dipenuhi kehangatan dan rasa lega.

Esok paginya, embun masih membasahi dedaunan saat Lukman tiba di depan rumah Arianti. Ia melihat Arianti sudah siap di teras, mengenakan daster biru langit bermotif bunga yang dibalut dengan sweter abu-abu. Arianti tersenyum menyambut Lukman.

"Maaf ya, Teh, pasti lama nungguin," sapa Lukman, merasa tidak enak.

"Enggak kok, aku juga baru aja keluar," jawab Arianti, sambil menunjuk ke arah jalan. "Tadi aku lihat ada kabut, dingin banget rasanya."

Mereka pun naik ke atas motor Lukman. Aroma tanah basah dan kesegaran udara pagi menyambut mereka sepanjang perjalanan. Lukman membawa motornya dengan pelan, sesekali menjelaskan perubahan desa yang sudah lama tidak Arianti kunjungi. Kiri kanan jalan terhampar persawahan yang mulai menghijau.

"Sawah bapak sebentar lagi juga panen," ujar Lukman. "Dulu Teh Yanti suka main di sana."

Arianti menoleh, matanya menerawang ke hamparan sawah itu. Ia tersenyum, kenangan masa kecilnya bersama Lukman bermain di pematang sawah kembali terlintas. Di sinilah, di tengah keheningan desa, hidup terasa lebih nyata.


Lukman memacu motornya perlahan, membiarkan Arianti menikmati pemandangan. Saat mereka melewati hamparan sawah yang menguning, beberapa orang terlihat sedang memanen padi. Suara mereka riuh, diselingi tawa dan canda.

"Neng Yanti! Sudah pulang rupanya!" sapa seorang ibu yang sedang mengikat padi. Senyumnya merekah lebar.

Arianti menoleh, melambaikan tangan dengan hangat. "Iya, Bu!" jawabnya sambil tersenyum.

Tak lama, beberapa orang lain juga ikut menyapa. Lukman ikut tersenyum bangga melihat sambutan hangat itu. "Semua orang masih ingat Teh Yanti," ucapnya. 

Arianti mengangguk, hatinya terasa hangat. Sambutan sederhana itu terasa begitu tulus, jauh berbeda dengan interaksi-interaksi di Jakarta yang serba cepat dan tak berjejak. Perjalanan yang dingin itu kini terasa begitu akrab, dipenuhi oleh sapaan dan senyum dari orang-orang yang mengenalnya.


Lima belas menit kemudian, motor Lukman memasuki area pasar. Pasar itu tidak terlalu besar, tetapi ramai. Aroma rempah-rempah, ikan asin, dan sayuran segar langsung menyambut Arianti. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, saat ibunya sering mengajaknya berbelanja ke pasar yang sama.

Lukman memarkir motornya. "Teh Yanti mau beli apa saja?" tanyanya.

"Banyak Lukman," jawab Arianti sambil tertawa. "Bumbu dapur, sabun, deterjen, pokoknya semua yang di rumah sudah habis."

Mereka pun mulai menyusuri setiap lorong. Arianti dengan cekatan memilih sayuran dan bumbu. Lukman mengikutinya dari belakang, membantu membawakan belanjaan. Di beberapa lapak, Arianti kembali bertemu dengan wajah-wajah yang dikenalnya. Mereka bertanya kabar dan memberikan sapaan hangat.

Setelah semua kebutuhan pokok terbeli, Lukman mengantar Arianti ke lapak kosmetik. "Kalau ini biar Teh Yanti yang pilih sendiri," katanya sambil tersenyum. Arianti merasa geli dengan sikap Lukman yang sopan.

Satu jam kemudian, semua belanjaan sudah penuh di keranjang motor. Arianti merasa lega, kebutuhannya kini terpenuhi. Ia juga merasa gembira karena bisa kembali merasakan suasana pasar yang penuh keakraban.

Setelah semua kebutuhan pokok terbeli, Arianti menunjuk sebuah gerobak bubur ayam di sudut pasar. Aroma gurih bubur dan taburan ayam suwir yang menggoda langsung tercium. "Lukman, mampir dulu, yuk. Teh Yanti mau beli bubur ayam," ajaknya.

Lukman mengangguk. "Teh Yanti pasti kangen bubur ayam Mang Ujang, ya?" tanyanya sambil tersenyum.

Arianti tertawa kecil. "Iya, dulu kan sering beli sama-sama. Bubur ayam Mang Ujang paling enak di sini."

Mereka berdua pun duduk di bangku panjang yang disediakan. Arianti memesan dua porsi. Ia bercerita tentang betapa bubur ayam ini adalah salah satu hal yang paling ia rindukan dari kampung. Bubur ini bukan hanya sekadar makanan, melainkan juga pengingat akan masa kecil yang indah, saat ia dan Lukman sering berbagi semangkuk bubur di sore hari sepulang sekolah.

Lukman mendengarkan dengan saksama. Ia tak menyangka, hal sesederhana bubur ayam bisa begitu berarti bagi Arianti. Di tengah obrolan, Arianti menyerahkan selembar uang kepada Lukman untuk membayar. Lukman, yang awalnya menolak, akhirnya menerima setelah Arianti bersikeras. "Anggap saja uang jajan hari ini," ujar Arianti sambil tersenyum.

Setelah selesai makan, mereka berdua kembali ke motor dengan perut kenyang dan hati yang gembira. Belanjaan sudah lengkap, dan kenangan manis pun tersegarkan kembali.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Matahari sudah mulai naik, menghangatkan udara pagi yang tadinya dingin. Lukman memacu motornya dengan santai, sementara Arianti menikmati pemandangan sawah dan kebun yang kini terlihat lebih cerah.

Di tengah perjalanan, Arianti berpegangan lebih erat pada Lukman. "Lukman," panggilnya, suaranya terdengar serius. "Nanti kalau Teteh ada apa-apa, bantuin, ya."

Lukman mendengarkan dengan saksama. Ia melirik Arianti dari kaca spion, lalu tersenyum. "Iya, Teh. Selama aku enggak sibuk, siap aja," jawabnya tulus.

Jawaban Lukman membuat hati Arianti terasa lega. Ia tahu, di tengah kesendiriannya di desa, ia punya seseorang yang bisa diandalkan.

 Lukman menurunkan Arianti di depan teras rumah. Ia membantu Arianti mengangkat beberapa tas belanjaan ke dalam. Saat mereka sedang menata belanjaan, ponsel Arianti berdering. Nama "Mas Rudi" muncul di layar. Arianti segera mengangkatnya, wajahnya langsung sumringah.

"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Arianti ceria.

"Wa'alaikumussalam, Neng. Kok suaranya senang sekali? Sudah pulang dari mana?" tanya Rudi dari seberang telepon.

"Ini, aku baru pulang dari pasar," jawab Arianti. "Dijemput sama ojek khusus." Ia tertawa, lalu mengarahkan kamera ponselnya ke arah Lukman yang sedang berdiri di dekat pintu.

Rudi sempat mengerutkan dahi, tidak mengenali siapa pemuda di layar itu. "Siapa itu, Neng?" tanyanya bingung.

Lukman tersenyum canggung ke arah kamera. Sementara Arianti tertawa geli melihat reaksi suaminya. "Ini Lukman, Mas! Teman mainku waktu kecil," jelas Arianti.

Wajah Rudi langsung berubah cerah. Senyumnya mengembang. "Ya ampun, Lukman! Pangling sekali! Sudah besar, ya. Sehat, Man?" tanya Rudi sambil tertawa. Perubahan Lukman yang dulu masih kecil kini menjadi pemuda dewasa memang membuat Rudi sedikit kaget.

Lukman mengangguk malu. "Alhamdulillah, Mas. Sehat," jawabnya. Rudi pun mengucapkan terima kasih pada Lukman karena sudah membantu Arianti.

Setelah percakapan singkat via video call dengan Rudi, Lukman yang tadinya hendak berpamitan kini duduk di teras. Arianti bergegas masuk ke dalam dan kembali membawa segelas kopi hitam.

"Diminum dulu, Man. Teteh buatin kopi hitam," katanya sambil menyodorkan gelas. Lukman menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih, Teh," ucapnya sambil menyesap kopi.

Sambil menunggu Lukman selesai, Arianti mengeluarkan ponselnya. "Man, boleh Teteh minta nomor teleponmu? Biar kalau ada apa-apa, Teteh bisa langsung hubungi," ucapnya.

Lukman mengangguk. "Boleh, Teh," jawabnya sambil menyebutkan nomor ponselnya. Arianti segera menyimpannya.

"Terima kasih banyak, ya, Man," kata Arianti dengan tulus. "Sudah direpotin dari tadi."

"Sama-sama, Teh," jawab Lukman. "Senang kok bisa bantu."

Setelah itu, Lukman berpamitan. Arianti mengantarnya hingga ke depan teras. "Hati-hati, ya, Man," pesannya.

Arianti masuk ke dalam rumah sambil membawa ponselnya. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Nama "Mas Rudi" muncul di layar. Arianti segera mengangkatnya, wajahnya langsung sumringah.

"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Arianti ceria.

"Wa'alaikumussalam, Neng. Tadi kok videonya tiba-tiba putus? Mas penasaran," tanya Rudi dari seberang telepon.

"Iya, Mas. Lukmannya sudah mau pulang," jawab Arianti. "Wah, ojeknya spesial, ya, Neng," goda Rudi. "Pangling banget, loh, Mas. Dulu terakhir ketemu masih ingusan."

Arianti tertawa. "Iya, Mas. Lukman sekarang sudah dewasa. Baik sekali, mau antar Neng ke pasar. Dia juga enggak mau dibayar uang bensin."

"Baguslah kalau begitu. Jadi ada yang bisa diandalkan kalau kamu butuh apa-apa, Neng. Tapi, kalau ada apa-apa, bilang Mas dulu, ya," pesan Rudi dengan nada serius.

"Iya, Mas, tahu kok," jawab Arianti. Ia kemudian bercerita tentang bubur ayam Mang Ujang yang akhirnya ia nikmati dan bagaimana ia bertemu dengan beberapa tetangga yang masih mengenalnya di pasar. Ia merasa gembira karena disambut hangat oleh penduduk desa.

Wajah Rudi terlihat lega. "Syukurlah kalau begitu. Mas jadi tenang di sini," ucapnya. "Kamu jangan terlalu memaksakan diri, ya. Yang penting betah dulu di sana."

Arianti mengangguk, hatinya terasa hangat mendengar perhatian dari suaminya. Meskipun jauh, ia tahu Rudi selalu ada untuknya.

Arianti mengangguk, hatinya terasa hangat mendengar perhatian dari suaminya. Meskipun jauh, ia tahu Rudi selalu ada untuknya. Setelah sejenak terdiam, Arianti memberanikan diri menanyakan hal yang paling mengganjal di hatinya.

"Mas... kapan pulang lagi?" tanyanya lembut.

Rudi tersenyum, seolah tahu betul apa yang dipikirkan istrinya. "Insyaallah, setiap satu bulan sekali, Mas pasti pulang, Neng. Kamu jangan khawatir, ya."

Wajah Arianti langsung berseri. Jawaban Rudi menjadi penawar rindu yang seketika menghangatkan hatinya. Meskipun harus menunggu sebulan, setidaknya ada kepastian yang bisa ia pegang. Ia tahu, jarak ini hanyalah sementara.

Satu bulan telah berlalu sejak Arianti kembali ke kampung. Hari-hari sunyi yang ia jalani kini terasa lebih ringan karena janji kepulangan Rudi. Pagi itu, Lukman sudah siap di stasiun kereta, menunggu kedatangan Rudi.

Lukman berdiri di peron, matanya sibuk mencari di antara kerumunan penumpang yang turun dari kereta. Tak lama kemudian, ia melihat sosok yang dikenalnya. Rudi berjalan di antara penumpang lain sambil menenteng tas ransel di punggungnya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya berseri-eri.

"Mas Rudi!" sapa Lukman sambil melambaikan tangan.

Rudi menoleh, senyumnya langsung merekah. Ia menghampiri Lukman, menjabat tangannya erat. "Wah, Lukman! Terima kasih sudah mau repot-repot jemput, Man," ujar Rudi.

"Sama-sama, Mas. Teh Yanti sudah dari kemarin bilang, pokoknya harus dijemput," jawab Lukman sambil tersenyum. "Mas kelihatan capek sekali."

"Iya, perjalanan lumayan jauh. Tapi enggak apa-apa, yang penting sudah sampai. Ayo, kita langsung pulang. Neng Yanti pasti sudah menunggu," kata Rudi, penuh semangat.

Mereka berdua berjalan menuju motor Lukman. Keduanya langsung mengobrol akrab, seolah sudah berteman sejak lama.

Sesampainya di depan rumah, Arianti sudah menunggu di teras. Wajahnya langsung berseri begitu melihat Rudi turun dari motor Lukman. Tanpa menunggu lama, Arianti langsung menghampiri suaminya, memeluk erat seolah melepas rindu yang sudah satu bulan menumpuk. Lukman tersenyum melihat kebahagiaan mereka.

Setelah melepas pelukan, Rudi menoleh ke arah Lukman. "Lukman, ini buat uang bensin, ya. Terima kasih banyak sudah jemput Mas." Rudi menyodorkan selembar uang.

Seperti biasa, Lukman menolak dengan halus. "Enggak usah, Mas. Sama-sama. Aku senang kok bisa bantu."

Namun, Arianti langsung menyela. Ia menatap Lukman dengan tatapan bercanda tapi serius. "Terima saja, Man. Kalau enggak diterima, Teteh nanti marah, loh!"

Melihat Arianti yang bersungguh-sungguh, Lukman akhirnya tersenyum dan menerima uang itu. "Terima kasih banyak, Teh, Mas," ujarnya. Ia lalu berpamitan, hendak pulang.

"Eh, mau ke mana, Man?" cegah Rudi. "Jangan buru-buru. Mas kan baru sampai. Ayo, ngopi dulu di dalam. Nanti sekalian cerita-cerita."

Lukman yang tadinya mau menolak, kali ini tak bisa berkutik. Ia tersenyum dan mengangguk. Mereka bertiga pun duduk di teras, memulai percakapan hangat dengan secangkir kopi.

Tawa pecah di teras rumah Arianti. Lukman tersenyum sambil memegang cangkir kopi hitamnya. Di sampingnya, Arianti menyenggol lengan Rudi.

"Marahin tuh, Mas, si Lukman," goda Arianti. "Apa-apa selalu menolak."

Rudi tertawa. "Iya, Man. Enggak baik menolak rezeki," timpalnya sambil menepuk pundak Lukman. Lukman hanya tersenyum malu. Di mata Rudi, Lukman terlihat seperti adiknya sendiri.

Suasana sore itu terasa begitu hangat. Obrolan mereka mengalir ringan, diselingi canda tawa dan cerita masa lalu. Lukman merasa senang bisa berada di antara mereka, merasakan kehangatan yang tak ia duga. Di sisi lain, Rudi dan Arianti juga merasa lega karena di desa ini, ada sosok Lukman yang bisa mereka andalkan.

Malam tiba. Obrolan di teras semakin hangat. Langit mulai gelap, dihiasi ribuan bintang yang berkelip. Namun, di tengah keasyikan itu, Arianti tiba-tiba terlihat cemberut. Ia bergegas berdiri.

"Mau ke mana, Neng?" tanya Rudi, bingung melihat perubahan ekspresi istrinya.

"Ke kamar," jawab Arianti singkat, dengan nada sedikit ketus. "Sudah ngantuk."

Arianti masuk ke kamar, dan suara pintu yang ditutup agak keras membuat suasana canggung. Lukman yang mengerti situasi, langsung berinisiatif. "Mas, aku pulang dulu, ya. Sudah malam," pamitnya.

Rudi mengangguk, memahami situasi tanpa perlu dijelaskan. Ia berjalan mengantar Lukman sampai ke depan. "Maaf ya, Man. Maklum, istri Mas sudah lama tidak ketemu," ucap Rudi sambil tersenyum kecut. Lukman terkekeh, mengerti maksud Rudi. Keduanya saling cengengesan, maklum dengan sikap Arianti. Lukman pun mengendarai motornya pulang, meninggalkan Rudi yang kini sendiri.

Setelah Lukman pulang, Rudi melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menemukan Arianti sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah masih cemberut. Rudi mendekat, duduk di sampingnya, lalu meraih tangannya.

"Kenapa, Neng?" tanya Rudi lembut. "Kok cemberut begitu?"

Arianti menunduk. "Mas, dari tadi sibuk mengobrol terus dengan Lukman," ucapnya lirih. "Mas enggak kangen sama Neng?"

Rudi tersenyum, mengerti bahwa rasa cemburu kecil sedang menyelimuti hati istrinya. Ia memeluk Arianti. "Mana mungkin Mas enggak kangen? Mas pulang jauh-jauh ini ya karena kangen sama Neng."

Ia mengangkat dagu Arianti, menatap matanya yang berkaca-kaca. "Mas sengaja cerita-cerita sama Lukman karena Mas senang Neng di sini punya teman yang baik. Jadi Mas tenang di Jakarta," bisik Rudi.

Mendengar penjelasan itu, Arianti merasa malu. Ia membenamkan wajahnya di dada Rudi. "Maaf, Mas," bisiknya. "Aku cuma kangen."

Rudi membalas pelukannya. Keheningan malam itu bukan lagi canggung, melainkan dipenuhi kerinduan yang mendalam. Mereka saling memeluk, seolah waktu satu bulan yang memisahkan mereka kini terbayar lunas. Kehadiran mereka berdua membuat kamar warisan itu terasa hangat dan penuh cinta.

Pagi itu, mentari menyinari kamar di rumah itu yang kini terasa jauh lebih hangat. Rudi dan Arianti memulai hari dengan senyum di wajah mereka. Rudi mengajak Arianti berjalan-jalan di sekitar desa. Mereka menyusuri jalan setapak, melewati sawah yang menghijau, dan mampir di warung sederhana untuk sarapan.

Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa tetangga dan keluarga Lukman. Bu Maesaroh menyambut mereka dengan hangat dan mendoakan kebahagiaan mereka.

"Wah, Mas Rudi pulang, ya. Akhirnya Neng Yanti ada yang menemani," ucap Bu Maesaroh sambil tersenyum.

Rudi dan Arianti hanya tertawa, merasa senang dengan sambutan ramah tersebut.

"Rudi titip Neng Yanti, ya, Bu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bantu," kata Rudi, meminta izin dan restu pada orang tua Lukman.

Bu Maesaroh mengangguk sambil tersenyum. "Tenang, Mas Rudi. Di sini kami semua keluarga."

Mereka pun melanjutkan perjalanan, menikmati setiap momen kebersamaan yang terjalin.

Rudi berbalik, hendak melangkah pergi bersama Lukman yang sudah siap di motor. Namun, baru saja ia mengambil satu langkah, suara Arianti memanggilnya.

"Mas!"

Rudi menoleh. Arianti terlihat ragu. "Emm... kalau Mas sempat, tolong belikan TV, ya?" pintanya.

Rudi mengerutkan dahi, bingung. "TV? Beli di mana, Neng? Di sini kan tidak ada toko elektronik."

"Tapi kan, kalau malam sepi sekali, Mas," bisik Arianti. "Biar ada yang menemani."

Rudi mengangguk mengerti. Ia berpikir sejenak. "Man," panggilnya. "Toko elektronik besar itu yang sebelum stasiun kan masih buka? Ayo kita mampir ke sana dulu, beli TV."

Lukman tersenyum dan mengangguk.

 Sore harinya, Lukman kembali ke rumah Arianti, membawa sebuah kotak besar di jok belakang motornya. Ia menurunkan kotak itu, lalu meletakkannya di ruang tengah. Arianti segera membuka kotak itu, dan matanya membulat terkejut melihat isinya.

"Ya ampun, Lukman! Ini TV apa? Kok besar sekali? 42 inci?" seru Arianti, takjub. "Dan ini TV Android? Apa ada Wi-Fi di sini?"

Lukman tersenyum melihat reaksi Arianti. "Iya, Teh. Tadi Mas Rudi yang pilihkan. Katanya biar Teh Yanti enggak bosan." Lukman melanjutkan penjelasannya dengan tenang. "Soal Wi-Fi, di sini sudah ada kok. Sebulan bayarnya seratus ribu. Kalau langsung setahun, lebih murah, cuma enam ratus ribu."

Arianti terdiam sejenak, tak menyangka Rudi akan begitu memikirkan kebutuhannya. Ia merasa sangat terharu.

"Terima kasih banyak, ya, Lukman. Maaf sudah merepotkan," ucap Arianti dengan tulus. Ia merasa sangat bersyukur memiliki suami dan teman yang begitu peduli.

Bulan-bulan pertama setelah kepulangan Rudi berjalan sesuai rencana. Rudi pulang setiap bulan, meskipun hanya sebentar. Keberadaan TV baru juga membuat Arianti tidak lagi merasa terlalu sepi. Jika ia merasa bosan, ia bisa menonton acara kesukaannya atau menonton film yang diunduh Lukman dari Wi-Fi. Hidup Arianti di desa terasa lebih mudah.

Namun, memasuki bulan ketujuh, rutinitas itu mulai berubah. Seharusnya Rudi sudah pulang, tetapi ia belum muncul. Arianti mulai resah, meski Rudi sudah menelepon dan beralasan ongkos transportasi terlalu mahal.

"Nanti kalau ada rezeki lebih, Mas langsung pulang, Neng. Kamu sabar, ya," ucap Rudi di telepon.

Arianti berusaha memaklumi. Ia tahu hidup di Jakarta tidak mudah. Tapi seiring berjalannya waktu, alasan itu seringkali terulang. Rudi pulang kadang baru dua bulan sekali, bahkan pernah sampai tiga bulan. Dan bukan hanya kepulangannya, kini uang transferan yang seharusnya ia terima pun sering terlambat.

Arianti mulai merasa bingung. Ongkos transportasi yang mahal bisa ia pahami, tetapi keterlambatan kiriman uang membuat Arianti semakin khawatir. Ia tahu Rudi bukan tipe orang yang melupakan tanggung jawabnya. Ada sesuatu yang tidak beres, dan Arianti tidak tahu apa itu. Ia hanya bisa berdoa dan berharap suaminya baik-baik saja.


Kecemasan Arianti semakin menjadi. Ia tak bisa lagi menahan kekhawatiran yang terus menumpuk. Pagi itu, setelah sarapan seadanya, ia mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Rudi. Namun, lagi-lagi panggilannya tidak dijawab. Uang transferan yang seharusnya masuk hari ini juga belum ada kabar.

Arianti memandangi rumah yang terasa begitu sepi. Dinding-dindingnya seolah ikut membisikkan kerisauan di hatinya. Ia tahu ia tidak bisa berdiam diri. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Satu-satunya orang yang bisa ia andalkan saat ini adalah Lukman.

Arianti pun melangkahkan kaki ke rumah Lukman. Ia disambut hangat oleh Bu Maesaroh, lalu tak lama Lukman datang. Wajah Arianti yang tampak murung membuat Lukman langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

"Kenapa, Teh Yanti? Kok lesu begitu?" tanya Lukman, suaranya penuh perhatian.

Arianti menarik napas dalam-dalam. "Lukman, Teteh mau minta tolong, ya. Teteh khawatir sekali. Mas Rudi sudah dua bulan tidak pulang, dan uang transferan juga telat. Teteh takut ada apa-apa."

Mendengar cerita Arianti, wajah Lukman berubah serius. Ia bisa merasakan kekhawatiran Arianti. "Teh, jangan khawatir. Nanti aku coba cari tahu. Mungkin ada teman Mas Rudi di Jakarta yang bisa dihubungi," jawab Lukman, mencoba menenangkan Arianti.

Panggilan telepon dari Rudi berakhir. Arianti duduk di teras, ponselnya masih dalam genggaman. Kata-kata suaminya terngiang-ngiang di telinganya. "Kenapa cepat sekali habis?"

Arianti menunduk, menatap jari-jarinya. Ia mencoba menghitung ulang pengeluarannya. Sejak Rudi pergi, ia memang tidak hanya membeli bahan pokok. Ada beberapa barang yang menurutnya penting, seperti sabun wajah yang lebih bagus dan pelembap agar kulitnya tidak kering karena terik matahari.

Ia menghela napas. Bukannya ia tidak tahu hidup di desa lebih murah. Ia tahu betul. Tetapi, ia merasa butuh sedikit hiburan. Sendirian di rumah, tanpa teman mengobrol selain Lukman, membuat hatinya sering kali merasa kosong. Barang-barang kecil itu, seperti lipstik berwarna cerah dan produk perawatan wajah, adalah pelipur lara untuk hatinya.

"Lagipula, kalau Mas pulang, kan Mas juga senang kalau Neng terlihat cantik dan terawat," bisiknya pada diri sendiri, mencoba membenarkan perbuatannya.

Namun, sekarang ia mengerti. Bagi Rudi, uang itu adalah hasil kerja keras. Setiap rupiahnya dihitung dengan cermat. Sesuatu yang ia anggap sebagai kebutuhan emosional, bisa jadi Rudi anggap sebagai pengeluaran yang tidak perlu. Pertengkaran ini bukan hanya tentang uang, melainkan tentang perbedaan pandangan yang kini menganga di antara mereka.

Esok harinya, Arianti memutuskan untuk pergi ke rumah Lukman. Kekhawatiran di hatinya semalam membuat ia butuh sedikit pengalih perhatian. Tiba di sana, suasana rumah tampak sepi, pintu hanya terbuka sedikit. Pak Kosim dan Bu Maesaroh sepertinya sudah pergi ke kebun atau sawah. Namun, dari dalam terdengar suara musik yang diputar cukup keras.

"Pasti Lukman ada di dalam," gumam Arianti. Ia melangkah masuk dan menemukan ruang tamu kosong. Ia melongok ke sebuah kamar yang pintunya terbuka. Di dalamnya, Lukman sedang asyik memindahkan lagu dari YouTube ke speaker Bluetooth-nya. Kipas angin berputar kencang di sudut ruangan. Ia hanya mengenakan celana pendek, tak memakai baju. Arianti terdiam di ambang pintu, tersenyum geli melihat pemandangan itu. Lukman tidak menyadari kehadirannya.

Tiba-tiba, Lukman menoleh dan terkejut. "Astaga, Teh Yanti! Kapan datang?" tanyanya sambil buru-buru menyambar kaus yang tergeletak di kasur dan memakainya.

"Sudah dari tadi," jawab Arianti sambil tertawa. "Enggak sadar saking asyiknya sama musik."

Lukman terlihat malu-malu. "Maaf ya, Teh, enggak tahu kalau mau ke sini."

"Enggak apa-apa," balas Arianti. Ia kemudian menyampaikan maksud kedatangannya. "Lukman, bisa antar Teteh ke pasar? Stok belanjaan sudah habis."

"Bisa, Teh," jawab Lukman. "Sebentar, aku siap-siap dulu."

Perjalanan menuju pasar pagi itu terasa berbeda. Di atas motor Lukman, Arianti duduk dalam diam. Lukman yang merasakan keheningan itu, membuka suara. "Teh Yanti kenapa? Kok kelihatannya murung?"

Arianti menghela napas. Ia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk bercerita. Perlahan, ia mulai menceritakan semua kegelisahannya. Ia bercerita tentang telepon dari Rudi, tentang Rudi yang marah karena uang kiriman cepat habis, dan tentang dirinya yang juga bingung karena merasa sudah berhemat.

"Teh juga bingung, Lukman," ucapnya lirih. "Hidup di kampung kan harusnya lebih murah. Tapi, uang yang dikirim Mas Rudi selalu cepat sekali habis. Ada yang aneh, dan Teteh tidak tahu apa itu."

Lukman mendengarkan dengan saksama. Ia tak menyela, membiarkan Arianti menumpahkan semua isi hatinya. Raut wajahnya berubah serius. Ia tahu masalah ini lebih dalam dari sekadar kesalahpahaman.

"Jangan khawatir, Teh Yanti," kata Lukman, mencoba menenangkan. "Nanti coba kita pikirkan pelan-pelan. Kalau ada apa-apa, bilang ke aku ya. Aku pasti bantu."

Di tengah perjalanan, motor Lukman melintasi sebuah jembatan kecil di pinggir sawah. Di bawah pohon rindang yang berdiri kokoh, Arianti tiba-tiba menyuruh Lukman berhenti.

"Man, sebentar saja," pintanya.

Lukman menghentikan motornya. Mereka berdua turun, menatap hamparan sawah hijau yang membentang di hadapan mereka. Arianti terdiam, pikirannya berputar. Ia mencoba membandingkan pengeluaran dan uang kiriman Rudi saat di Jakarta dengan yang sekarang di kampung.

Setelah beberapa menit hening, Arianti menepuk jidatnya. Matanya membulat, seolah baru saja menemukan kepingan teka-teki yang hilang.

"Astaga, Lukman! Bodohnya Teteh!" seru Arianti.

Lukman kebingungan. "Kenapa, Teh?"

"Aku baru sadar. Uang yang Mas Rudi kasih waktu kami di Jakarta sebenarnya jauh lebih banyak daripada sekarang. Dulu, Mas Rudi kasih jatah harian. Jadi setiap hari aku terima, tapi jumlahnya kecil. Sekarang, Mas kasih langsung untuk sebulan, jadi kelihatannya besar. Padahal kalau dihitung-hitung, jumlahnya jauh lebih sedikit!"

Lukman ikut terdiam, mencerna penjelasan Arianti. "Berarti, masalahnya bukan di pengeluaran Teh Yanti yang boros?" tanyanya.

Arianti mengangguk, matanya kini dipenuhi kekhawatiran yang baru. "Masalahnya sekarang, kenapa Mas Rudi mengirim uang lebih sedikit? Apa ada yang terjadi di Jakarta?"

Arianti menyeka keringat di dahinya. Raut wajahnya berubah. Pipinya memerah, menahan rasa malu dan cemas yang kini bercampur aduk. Lukman yang melihat itu langsung mengerti. Ia menenangkan Arianti, menyuruhnya untuk sabar.

"Jangan dipikirkan sekarang, Teh," ucap Lukman lembut. "Itu masalah yang perlu dibicarakan lagi dengan Mas Rudi."

Arianti mengangguk, mencoba mengendalikan emosinya. Ia tahu Lukman benar. Kemarahannya pada Rudi semalam salah alamat. Masalahnya bukan pada pengeluarannya yang boros, melainkan pada uang kiriman yang berkurang.

"Ya sudah, ayo kita ke pasar," ajak Lukman, berusaha mengalihkan perhatiannya.

Arianti menarik napas panjang. Ia mengangguk dan tersenyum, berterima kasih atas pengertian Lukman. Kini, ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Dalam perjalanan pulang dari pasar, Lukman dan Arianti kembali melewati jembatan di pinggir sawah. Di bawah pohon rindang yang sama, terlihat dua pemuda sedang asyik mengobrol. Ternyata mereka teman Lukman.

"Teh, sebentar ya, aku mau sapa mereka," ucap Lukman.

Arianti mengangguk. Lukman menepikan motornya dan memperkenalkan Arianti kepada teman-temannya. "Teh, ini Danu sama Irfan. Mereka baru pulang dari Jakarta."

Saat Danu melihat Arianti, wajahnya tiba-tiba menunjukkan ekspresi terkejut. "Loh, kok ada Mbak Arianti?" tanyanya tanpa sadar. Lalu, ia membalikkan badan ke arah Irfan dan berbisik, "Ini lho, mantan istrinya Mas Rudi. Sekarang katanya sudah punya istri lagi di sana."

Suara Danu yang terdengar cukup keras sampai ke telinga Arianti. Sontak Arianti memerah padam, dadanya terasa sesak. "Maksud kamu apa?!" hardiknya, suaranya bergetar.

Lukman yang melihat Arianti panik langsung memegang tangannya. "Danu, jelaskan!" pintanya tegas.

Dengan terbata-bata, Danu menceritakan apa yang ia dengar di pabrik. "Maaf, Teh. Di pabrik tempat Mas Rudi kerja, ada kabar kalau Mas Rudi sudah menceraikan istrinya yang di kampung dan sekarang dia sudah menikah lagi. Aku juga tidak tahu kebenarannya, Man."

Mendengar kata-kata itu, dunia Arianti runtuh. Tangannya gemetar, kakinya lemas, dan ia bersimpuh di tanah. Lukman dan teman-temannya panik. Mereka segera mencoba menenangkan Arianti, tetapi ia tidak bergeming. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang memerah.

Dengan panik, Lukman dan Irfan membantu Arianti berdiri. Sementara itu, Danu maju dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan aku, Teh. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi," ucapnya. "Aku hanya berharap kabar itu bohong. Jangan terlalu dipikirkan dulu."

Arianti hanya mengangguk pelan, matanya masih kosong. Ia tahu Danu tidak bermaksud jahat. Ia menerima permintaan maafnya, tetapi hatinya terlanjur hancur. Lukman segera memapah Arianti ke motornya. Perjalanan pulang terasa sangat berbeda. Jika tadi pagi penuh dengan tawa dan obrolan, kini hanya ada keheningan yang menyesakkan.

Sesampainya di rumah, Lukman membantu Arianti masuk. Ia meletakkan kunci motor di atas meja, lalu menatap Arianti dengan cemas. "Istirahat ya, Teh. Jangan pikirkan yang macam-macam dulu. Nanti kalau sudah tenang, aku ke sini lagi," ucapnya.

Arianti mengangguk, masih tak bersuara. Lukman pun pamit, meninggalkan Arianti sendirian di ruang tengah. TV baru yang terpajang di sana kini terasa bagai ejekan. Janji-janji Rudi, kini terasa kosong. Arianti hanya bisa duduk di sofa, membiarkan air matanya kembali mengalir deras.

Setelah Lukman pergi, Arianti mencoba menguatkan dirinya. Dengan tangan bergetar, ia meraih ponselnya. Ia harus mendengar kebenaran langsung dari mulut Rudi. Arianti mencoba menelepon berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Rasa putus asa mulai menjalari hatinya.

Namun, setelah mencoba untuk kesekian kalinya, akhirnya panggilan itu tersambung.

"Halo, Neng?" suara Rudi terdengar, terdengar ragu.

"Mas... apa benar yang dikatakan orang-orang?" tanya Arianti, suaranya parau menahan tangis. "Apa benar Mas sudah menikah lagi?"

Rudi terdiam. Keheningan di telepon terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apapun. Ia mencoba mengelak, mengatakan itu hanya gosip dan Arianti tidak perlu mendengarkan orang lain. Tetapi Arianti terus mendesak. Ia menceritakan bagaimana Danu, teman Lukman yang bekerja di pabrik yang sama, mengatakan semuanya.

Akhirnya, tidak ada lagi yang bisa Rudi sembunyikan. Suara helaan napas berat terdengar dari seberang telepon. Rudi mengaku.

Air mata Arianti tumpah. Hatinyat hancur berkeping-keping mendengar pengakuan itu. "Sampai hati kamu, Mas," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.

Di balik pintu yang terbuka sedikit, Lukman ternyata belum pulang. Sejak mengantar Arianti, ia tak tega meninggalkannya sendirian dalam keadaan kacau. Ia memilih menunggu di teras, memastikan Arianti baik-baik saja sebelum ia benar-benar pergi.

Tiba-tiba, keheningan pecah oleh suara tangis Arianti dari dalam rumah. Suaranya pilu, penuh luka. Lukman tahu, itu adalah tangis seorang wanita yang hatinya hancur. Ia tidak bisa mendengar percakapan di telepon, tetapi suara tangis itu sudah cukup menjadi bukti bahwa kabar yang dibawa Danu adalah sebuah kebenaran.

Lukman mengepalkan tangannya. Rasa iba dan amarah membuncah di dadanya. Ia ingin masuk, memeluk Arianti, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia tahu Arianti butuh ruang untuk menangis. Ia hanya bisa terdiam, menjadi saksi bisu atas hancurnya hati Arianti.

Lukman yang tadinya hendak pulang, tak bisa benar-benar pergi. Ia masih berdiri di teras, diliputi kegelisahan. Samar-samar, ia melihat bayangan Arianti bergerak di dalam. Gerakannya hening, tak lagi diselimuti tangis. Naluri Lukman berteriak, menyuruhnya waspada. Ia pun mengintip dari celah pintu yang terbuka.

Pemandangan di dalam membuat jantungnya berhenti berdetak. Arianti berdiri di depan meja dapur. Tangannya memegang sebilah pisau, menempelkannya di urat nadi. Wajahnya kosong, tatapannya hampa.

"Jangan, Teh!" teriak Lukman. Tanpa pikir panjang, ia menerobos masuk, merampas pisau itu dari tangan Arianti, dan melemparkannya jauh-jauh ke sudut ruangan.

Arianti terkejut, namun bukan karena takut, melainkan karena rencananya digagalkan. Ia berteriak, melampiaskan amarah dan keputusasaan yang tertahan. Suaranya yang keras menarik perhatian tetangga. Tak lama, Pak Kosim dan Bu Maesaroh, yang mendengar teriakan itu, berlari tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.

"Ada apa ini?" tanya Bu Maesaroh panik.

Lukman menceritakan semuanya dengan napas terengah-engah. Suasana pun berubah tegang. Sementara itu, Bu Maesaroh dan beberapa ibu tetangga langsung menghampiri Arianti, memeluknya, dan mencoba menenangkan. Pak Kosim menepuk pundak Lukman, menunjukkan rasa bangga sekaligus prihatin. Semua orang menasihati Arianti, meminta ia untuk bersabar dan tidak mengambil jalan pintas. Air mata Arianti kembali tumpah, namun kali ini bukan karena kesedihan semata, melainkan juga karena kehangatan dan kepedulian yang mendadak melingkupinya.

Keringat bercucuran di wajah dan tubuh Arianti yang masih menegang. Ia duduk di lantai, bersandar di dinding, matanya terpejam erat. Kerumunan warga di sekitarnya terasa jauh, hanya suara isak tangisnya sendiri yang menggema di telinga.

Seorang warga, seorang ibu paruh baya, masuk ke ruangan sambil membawa segelas air. "Ini, Nak. Air doa dari Pak Kyai," bisiknya lembut.

Bu Maesaroh membantu Arianti menerima gelas itu. Perlahan, Arianti meminumnya hingga tandas. Tak lama kemudian, ketegangan di tubuhnya mulai mengendur. Air mata yang tadinya mengalir deras, kini hanya tersisa jejaknya. Kepalanya terasa berat, dan ia perlahan merebahkan diri di pangkuan Bu Maesaroh.

Bu Maesaroh tersenyum haru, mengelus-elus rambut Arianti. Ia tahu, batin Arianti benar-benar lelah. Di tengah keputusasaan yang melanda, Arianti akhirnya menemukan ketenangan, berkat kehangatan dan doa dari orang-orang sekitarnya.

Pagi itu, mentari mulai menyapa. Lukman datang ke rumah Arianti dengan membawa rantang yang berisi bubur ayam buatan ibunya. Ia masuk perlahan, mendapati Arianti sudah terbangun dan duduk termangu di sofa. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi matanya sudah tidak sembab lagi.

"Teh Yanti, ini aku bawakan bubur buatan Ibu," sapa Lukman lembut. "Dimakan ya, Teh. Biar ada tenaga."

Arianti menoleh, pandangannya kosong. Namun, ia melihat ketulusan di mata Lukman. Ia mengambil mangkuk bubur itu, mencium aroma hangatnya yang membuat perutnya keroncongan. Ia menyadari, setelah semua yang terjadi, ia masih memiliki orang-orang baik yang peduli.

"Terima kasih, Lukman," ucap Arianti lirih.

Lukman hanya tersenyum dan mengangguk. Ia membiarkan Arianti menikmati buburnya dalam diam. Mangkuk bubur itu bukan sekadar makanan, melainkan lambang dari uluran tangan dan ketulusan hati yang kini menjadi tumpuan bagi Arianti untuk bangkit.

Lukman duduk di kursi, menemani Arianti dalam diam. Arianti menyantap bubur itu perlahan. Setiap suapan terasa hambar, namun hangatnya bubur buatan Bu Maesaroh sedikit menghangatkan hatinya yang beku. Tanpa sadar, air matanya kembali menetes, membasahi mangkuk di tangannya.

Ia menangis bukan lagi karena kesedihan semata, tetapi karena haru. Di tengah rasa sakit akibat pengkhianatan suaminya, ia justru menemukan kebaikan yang tulus dari orang-orang sekitarnya. Lukman yang rela menunggu, Bu Maesaroh yang membuatkan bubur, dan para tetangga yang menasihatinya dengan penuh kepedulian.

Arianti menyeka air matanya. Ia sadar, meskipun dunia yang ia bangun bersama Rudi telah hancur, ia tidak sendirian. Ia masih memiliki orang-orang baik di sekelilingnya yang siap menjadi sandaran.

 Arianti duduk termenung di sofa, mangkuk bubur di pangkuannya telah kosong. Lukman yang sedari tadi menemaninya, akhirnya memecah keheningan. Ia melirik Arianti, lalu bertanya lembut, "Teteh belum mandi, ya?"

Arianti menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia merasa malu, menyadari kondisinya yang masih berantakan. Namun, ia juga tahu ia membutuhkan bantuan. Dengan suara memohon, ia berkata, "Lukman, bisa tolong rebuskan Teteh air? Teteh ingin mandi pakai air hangat."

Lukman mengangguk tanpa ragu, "Tentu, Teh." Ia langsung berdiri dan berjalan menuju dapur. Arianti menatap punggung Lukman, senyumnya kini terasa lebih tulus. Bantuan kecil itu, yang datang tanpa diminta, kini terasa begitu berarti. Perhatian dari Lukman seolah menjadi air hangat pertama yang ia rasakan setelah sekian lama berada dalam dinginnya kesedihan.

Lukman sudah menyediakan air hangat di kamar mandi. Ia memberitahu Arianti bahwa semuanya sudah siap, lalu kembali duduk di sofa. Arianti berterima kasih dan melangkah masuk, menutup pintu. Beberapa menit berlalu, tetapi Arianti tak kunjung keluar. Lukman mulai khawatir. Ia bertanya-tanya apakah Arianti baik-baik saja di dalam.

Karena penasaran, ia berdiri dan mendekat ke pintu kamar mandi. Ia membungkuk, mengintip dari lubang kunci yang kecil. Astaga. Samar-samar, terlihat tubuh Arianti tanpa sehelai benang pun, sedang berendam di dalam bak mandi. Lukman seketika kaget, jantungnya berdegup kencang. Ia langsung berdiri dan bergegas kembali duduk di tempat semula, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Satu bulan telah berlalu sejak malam yang mencekam itu. Berkat dukungan dari Lukman, Bu Maesaroh, dan para tetangga, Arianti perlahan bangkit. Luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh, tetapi ia tidak lagi tenggelam dalam kesedihan. Pagi itu, Lukman mengantarnya ke bank.

Setelah menceritakan semua kejadian pada orang tuanya, Arianti kini mendapat kiriman uang dari mereka. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan juga sebagai bekal untuk memulai hidup baru.

Perjalanan ke bank terasa berbeda. Jika dulu ia pergi ke pasar dengan pikiran yang resah, kali ini ia pergi dengan ketenangan. Ia tahu ia tidak sendirian. Setibanya di bank, Arianti langsung menuju loket untuk mengambil uang kiriman itu. Lukman berdiri di sampingnya, menjaga dari kejauhan. Setelah urusan selesai, mereka pun kembali pulang. Di dalam tas Arianti, kini tersimpan sebuah harapan baru.

Arianti memutuskan untuk memulai lembaran hidup yang baru. Dengan tekad kuat, ia mendaftar sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Taiwan. Setelah urusan administrasi selesai, ia pun memulai pelatihan yang intensif. Hari-hari Arianti kini dipenuhi dengan kesibukan, belajar bahasa, dan membekali diri dengan berbagai keterampilan. Ia terlihat lebih fokus dan bersemangat, seolah menemukan tujuan baru dalam hidupnya.

Di sisi lain, Lukman merasakan kekosongan yang mendalam. Rumah Arianti yang biasanya ia kunjungi untuk mengobrol atau sekadar menemani, kini terasa sunyi. Ia merindukan senyum Arianti, candanya, bahkan keresehan yang dulu ia rasakan. Tugasnya sebagai pelindung Arianti kini telah selesai, dan ia merasa seolah kehilangan sebuah tujuan. Hatinya hampa, dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak terucap, tentang perasaan yang ia simpan dalam diam.

Satu bulan berlalu dengan cepat. Malam itu, rumah Arianti ramai oleh persiapan. Bu Maesaroh dan Pak Kosim datang membantu Arianti menyiapkan barang-barang bawaannya. Bu Maesaroh melipat pakaian, sementara Pak Kosim memastikan koper dan tas sudah aman. Lukman juga ada di sana, membantu Arianti mengecek kembali dokumen-dokumen penting. Suasana haru dan hangat menyelimuti rumah itu.

Pada pukul sepuluh malam, Pak Kosim dan Bu Maesaroh berpamitan.

"Hati-hati di sana, ya, Nak. Jangan sungkan untuk hubungi kami," pesan Bu Maesaroh sambil memeluk Arianti erat.

"Semoga sukses di sana. Jaga diri," tambah Pak Kosim sambil menepuk pundak Arianti.

Setelah mereka pulang, hanya tersisa Lukman dan Arianti. Keheningan kembali menyelimuti rumah, tetapi kali ini terasa berbeda, penuh dengan keakraban. Lukman membantu Arianti merapikan beberapa barang yang masih berserakan, memastikan semuanya siap untuk keberangkatan besok pagi.

Arianti menatap Lukman yang masih sibuk merapikan barang. Ia bisa melihat Lukman terlihat lelah, namun tak mau berhenti.

"Lukman, istirahat saja. Sudah malam," ucap Arianti lembut. "Kamu pasti capek."

Lukman menoleh, tersenyum kecil. Namun, senyum itu terasa berat, seperti menyimpan banyak hal yang tak terucapkan. Ia tidak ingin menghentikan pekerjaannya, karena setiap menit yang ia habiskan di sana adalah momen terakhirnya bersama Arianti. Ia tahu, setelah ini, semuanya akan berbeda.


Sambil menyeka keringat di dahinya dengan tisu, Arianti tersenyum kecil. Ia mengamati Lukman yang masih sibuk merapikan barang-barang. Perubahan sikap Lukman akhir-akhir ini begitu kentara. Bukan lagi sekadar teman baik, Lukman kini selalu ada di sisinya. kesediaannya menemani sampai larut malam seperti ini.

Arianti tahu, di balik wajahnya yang lelah, Lukman menyembunyikan perasaan yang lebih dalam. Hatinya menghangat, sekaligus sedih. Ia bersyukur memiliki Lukman, tetapi juga merasa bersalah karena harus meninggalkannya. Senyumnya pudar, digantikan oleh tatapan haru. Ia akan pergi, tetapi kenangan akan kebaikan Lukman akan selalu ia bawa.

Lukman berdiri, menatap sekeliling ruangan yang kini sudah rapi. "Semuanya sudah beres, Teh," ucapnya dengan senyum tipis.

Arianti tersenyum dan mengangguk. Ia merogoh tasnya, mengambil selembar uang, dan menyodorkannya ke Lukman. Lukman menggeleng, menolak halus.

"Ayolah, Lukman," bujuk Arianti, mencoba menyelipkan uang itu ke saku celana Lukman. Namun, Lukman tetap menolak, ia meraih tangan Arianti dan mengembalikan uang itu.

Arianti tersenyum kecil. Ia mencoba membujuk Lukman dengan cara yang berbeda. "Nanti Teteh marah lho, kalau kamu nolak," ucapnya setengah bercanda.

Namun, ekspresi Lukman tidak berubah. Ia malah membentak, "Cukup, Teh!"

Arianti terdiam. Lukman membalikkan badan, memunggungi Arianti. Bahunya terlihat bergetar. Arianti bingung, tidak mengerti mengapa Lukman tiba-tiba marah. Ia mendekat, mencoba melihat wajah Lukman.

"Lukman, ada apa? Kenapa kamu marah?" tanya Arianti, suaranya pelan dan penuh keheranan.

Lukman tetap diam. Ia tidak bergerak, tidak menjawab. Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Senyum Arianti perlahan memudar, digantikan oleh rasa cemas.

"Lukman... Maaf kalau Teteh ada salah," ucap Arianti lirih. Ia mencoba mencari mata Lukman, berharap mendapat petunjuk dari tatapannya. Namun, Lukman tetap memunggungi.

Karena tak mendapat respons, Arianti semakin bingung. Lukman kemudian berjalan keluar tanpa sepatah kata pun. Ia menaiki motornya, bersiap untuk pergi. Panik, Arianti berlari mengejarnya. Ia menarik tangan Lukman.

"Lukman, tunggu! Kenapa kamu seperti ini?" tanyanya, suaranya bergetar. Air matanya menetes, membasahi tangannya yang memegang erat lengan Lukman.

Lukman terdiam. Air mata Arianti menetes di tangannya, membasahi lengan kemejanya. Dalam kepanikan, Arianti menyadari Lukman benar-benar akan pergi. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan tangan Lukman, lalu mencabut kunci motor Lukman.

Lukman terkejut. Ia menatap Arianti dengan pandangan kosong. Namun, ia kembali membuang muka. Arianti terus memperhatikan Lukman, mencoba membaca arti di balik ekspresi Lukman yang terus-terusan membuang muka.

"Lukman, kenapa!?, Kenapa kamu tidak mau menatapku?" tanya Arianti, suaranya parau.

Lukman masih bergeming. Ia tahu ia tidak bisa pergi. Tangannya mengepal, menahan amarah dan kesedihan yang membuncah di dadanya.

Lukman tetap memalingkan wajah, menolak untuk menatap Arianti. Air matanya sudah membasahi tangannya, tetapi ia tetap bergeming. Putus asa, Arianti melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia menarik paksa wajah Lukman dengan kedua tangannya, memaksa mata mereka bertemu.

Saat Lukman hendak menarik wajahnya lagi, ia terkejut. Mulutnya terkunci oleh bibir Arianti. Ciuman itu bukan ciuman yang penuh gairah, melainkan ciuman yang dipenuhi air mata. Arianti menangis, menyalurkan semua kesedihan, Lukman yang terkejut kini pasrah. Ia memejamkan mata, membiarkan Arianti mencurahkan isi hatinya. Arianti tak melepaskannya.

Arianti melepaskan bibirnya dari Lukman. Wajahnya sendu, dipenuhi air mata. Ia menatap wajah Lukman yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

"Lukman menyukai Teteh?" tanya Arianti, suaranya bergetar.

Lukman menunduk, tak mampu membalas tatapan Arianti. Arianti mengangkat wajah Lukman, memaksanya untuk menatapnya. Ia kembali bertanya, "Apa benar Lukman menyukai Teteh?"

Lukman menghela napas. Hatinya telah terbuka. Dengan suara yang lirih, ia menjawab, "Iya, Teh."

Air mata masih mengalir di pipi Arianti. Dengan kedua tangannya, ia memegang pipi Lukman, menatap dalam-dalam ke matanya. "Kalau kamu benar menyukai Teteh," ucapnya dengan suara serak, "tunggu tiga tahun lagi, ya?"

Lukman mengangguk. Arianti menaikkan alisnya, seolah meyakinkan. "Kamu sanggup?"

"Sanggup, Teh," jawab Lukman, suaranya mantap.

Arianti tersenyum dan kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Lukman, kali ini dengan kehangatan yang tulus. Ia melepaskan ciuman itu, lalu berbisik, "Udah, kamu pulang dulu."

Lukman berdiri, masih dalam diam. Ia mengerti. Ia pun berjalan keluar dan menaiki motornya. Arianti hanya bisa menatap kepergian Lukman, sambil tersenyum dan menangis di waktu yang sama. Ia tidak menyangka Lukman bisa begitu menyukainya, rela menunggu dirinya yang akan pergi jauh. Di bawah langit malam, Arianti berdiri, dengan hati yang kini dipenuhi oleh janji dan sebuah harapan baru.

Posting Komentar untuk "Dia Selalu Bersamaku Ketika Suaminya Pergi"