Mengikuti Kemauan Bosku Yang Berstatus Janda
Fiki, seorang sopir pribadi berusia 23 tahun, terjebak dalam pusaran konflik rumah tangga majikannya, Anton Wijaya dan Helena. Setelah 12 tahun pernikahan tanpa anak, Anton yang merasa frustrasi memutuskan untuk menikah lagi.
Fiki dan satpam rumah, Pak Arif, menjadi saksi pertengkaran yang memuncak hingga Anton meninggalkan rumah. Helena yang kesepian dan terpuruk, mencoba melarikan diri dari kenyataan. Ia mencoba mencari kesenangan di klub malam, namun kembali diselamatkan oleh Fiki.
Perjalanan mereka berlanjut ke sebuah pantai yang sepi. Di sana, Helena mencurahkan semua kesedihan dan kekecewaannya kepada Fiki. Fiki yang awalnya hanya seorang sopir, berhasil memberikan penghiburan dan nasihat tulus yang membuat Helena merasa dipahami. Keduanya akhirnya berbagi momen emosional, di mana Helena menangis di pelukan Fiki, menyadari bahwa di balik kehidupannya yang mewah, ia merasa hampa dan sendirian.
"Bagaimana kalau kamu tunangan dulu saja, Fik?" saran Helena, suaranya terdengar penuh pertimbangan. "Sebagai pengikat, biar pacar kamu tidak diambil orang."
Fiki awalnya ragu. "Tapi, Bu, kan saya belum bilang apa-apa ke pacar saya."
Helena tersenyum meyakinkan. "Tidak apa-apa. Nanti saya bantu bicara. Kamu tunangan dulu. Nanti setelah tunangan, kita bicarakan lagi soal pernikahan."
Fiki mengangguk, setuju. "Baik, Bu," jawabnya, hatinya dipenuhi rasa bahagia.
Keesokan harinya, Helena langsung bergerak cepat. Ia mengajak Fiki pergi ke sebuah butik dan membelikan Fiki setelan jas baru untuk acara pertunangan. "Masa mau tunangan pakai baju biasa," katanya. "Harus yang terbaik." Fiki hanya bisa tersenyum malu.
Keesokan harinya lagi, Fiki, Pak Arif, dan Bi Minah sudah siap di dalam mobil. Helena mengemudikan mobilnya sendiri. "Kita berangkat sekarang," katanya. "Sudah lama saya tidak mengendarai mobil sendiri."
Mereka bertiga terkejut. "Tapi, Bu, biar saya saja yang menyetir," kata Fiki.
"Tidak, Fik. Saya yang akan menyetir," jawab Helena, tersenyum. "Ini kan acara penting. Kita harus membuat kesan yang baik."
Perjalanan ke kampung Fiki terasa menyenangkan. Helena, yang biasanya angkuh, kini menjadi sosok yang ramah dan hangat. Ia bercerita tentang masa mudanya, dan sesekali bertanya tentang kampung Fiki. Fiki merasa bangga. Ia tidak menyangka, majikannya yang kaya raya itu, bisa menjadi sosok yang sederhana dan menyenangkan.
Helena mengendarai mobilnya sendiri dengan Fiki, Pak Arif, dan Bi Minah sebagai penumpang. Perjalanan ke kampung Fiki terasa menyenangkan, jauh dari kesan formal dan tegang. Akhirnya, mereka sampai di sebuah desa yang asri. Pemandangan sawah hijau dan udara segar menyambut kedatangan mereka. Fiki menunjukkan rumah pacarnya, seorang gadis bernama Siti.
Di depan rumah sederhana itu, kedua orang tua Siti, Pak Udin dan Bu Minah, menyambut mereka dengan wajah terkejut namun bahagia. "Lho, Fiki? Kok tidak bilang-bilang mau datang?" tanya Bu Minah sambil memeluk Fiki. Mereka juga menyambut Helena, Pak Arif, dan Bi Minah dengan hangat, walau terlihat sedikit bingung.
Setelah berbasa-basi, mereka duduk di ruang tamu. Pak Udin mempersilakan Fiki dan rombongan untuk minum teh. Suasana terasa canggung. Fiki melihat ke sekeliling, mencari sosok Siti, namun gadis itu tak kunjung keluar. Fiki merasa ada yang aneh.
Setelah suasana mulai agak cair, Fiki memberikan isyarat kepada Pak Arif untuk memulai pembicaraan. Pak Arif berdehem, lalu berkata dengan sopan. "Maaf, Pak Udin, Bu Minah. Kedatangan kami ke sini mendadak. Maksud dan tujuan kami baik. Fiki ingin melamar Siti, anak Bapak dan Ibu."
Pak Udin dan Bu Minah saling pandang, wajah mereka terlihat bingung dan penuh rasa bersalah. Fiki melihat ke sekeliling, mencari sosok Siti, namun gadis itu tak kunjung keluar. Fiki merasa ada yang aneh.
Setelah suasana mulai agak cair, Fiki memberikan isyarat kepada Pak Arif untuk memulai pembicaraan. Pak Arif berdehem, lalu berkata dengan sopan. "Maaf, Pak Udin, Bu Minah. Kedatangan kami ke sini mendadak. Maksud dan tujuan kami baik. Fiki ingin melamar Siti, anak Bapak dan Ibu."
Kedua orang tua Siti terdiam. Bu Minah menunduk, tak berani menatap Fiki. Sementara Pak Udin menghela napas berat, seolah sedang memikul beban yang sangat besar.
"Siti ada di mana, Pak? Bu?" tanya Fiki, tak bisa menahan rasa penasarannya.
Dengan suara bergetar dan penuh penyesalan, Pak Udin akhirnya berbicara, "Maaf, Fik... Maafkan kami. Siti ada di dalam, di kamarnya." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Siti... Siti akan segera menikah. Dia... dia sudah hamil lima bulan."
Seluruh ruangan terdiam. Fiki merasa dunianya runtuh. Kata-kata itu begitu menyakitkan, menusuk hatinya hingga ke relung terdalam. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya membeku, matanya kosong menatap lantai. Ia hanya bisa merenung, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja ia dengar.
Helena, yang duduk di samping Fiki, segera mendekat. Ia membelai rambut Fiki dengan lembut, seolah ingin memberikan kekuatan. "Sabar, Fik," bisiknya pelan, suaranya dipenuhi rasa iba. Fiki tak bisa membendung air matanya. Ia menangis dalam diam, membiarkan kesedihan memenuhi hatinya.
"Kami minta maaf sebesar-besarnya, Fik," ucap Pak Udin lagi, suaranya parau. "Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh warga sudah tahu kalau Siti hamil oleh Ardi."
Fiki mematung. Namanya menusuk hatinya, membuat luka lama kembali terbuka. Ardi adalah temannya, orang yang paling ia percaya. Ia benar-benar tidak menyangka, teman yang ia anggap saudara, tega menusuknya dari belakang. Fiki tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya di kursi, membiarkan kenyataan pahit itu mencengkeramnya.
Helena, yang duduk di samping Fiki, segera menyeka keringat dingin yang membasahi pelipis Fiki. Fiki hanya bisa menunduk, menangis dalam diam, membiarkan kesedihan dan kekecewaan memenuhi hatinya. Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya tidak akan sama lagi.
Di kamar yang sunyi, Siti membenamkan wajahnya ke bantal. Isak tangisnya teredam kain, namun perasaannya kacau balau. Ia menyesal. Menyesal telah mengecewakan Fiki. Menyesal telah mengkhianati cinta tulus Fiki. Ia tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis, membiarkan penyesalan memenuhi hatinya. Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya tidak akan sama lagi.
Fiki tak sanggup berlama-lama di sana. Ia bangkit, diikuti oleh Helena, Pak Arif, dan Bi Minah. Tanpa basa-basi lagi, mereka berpamitan. Ucapan maaf dari kedua orang tua Siti hanya dibalas anggukan pelan oleh Fiki. Fiki berjalan cepat menuju mobil, ingin segera pergi dari tempat yang kini menjadi sumber luka hatinya.
Helena, Pak Arif, dan Bi Minah mengikuti di belakang, tak ada yang berbicara. Suasana terasa begitu berat. Mobil Fiki mulai bergerak meninggalkan halaman rumah Siti. Tepat saat mobil hendak berbelok, dari balik pintu, Siti tiba-tiba muncul. Ia berlari ke depan rumah, berteriak, "Fiki! Maafin Siti!"
Helena, Pak Arif, dan Bi Minah menoleh ke belakang, menatap Siti dengan tatapan iba. Namun, Fiki hanya diam. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, air matanya menetes, tak sanggup menoleh ke belakang, tak sanggup melihat wajah yang telah mengkhianati cintanya. Ia hanya ingin pergi, sejauh mungkin dari tempat itu, dan melupakan semua kenangan pahit yang terjadi.
Malam tiba, dan suasana di pos jaga terasa berbeda. Papan catur teronggok sepi di sudut, tanpa ada yang menggerakkan bidak-bidaknya. Fiki, yang biasanya sudah asyik bermain catur dengan Pak Arif, tak terlihat.
Helena, yang baru saja keluar dari rumah, melihat pemandangan itu. "Pak Arif," panggilnya. "Fiki di mana? Kok tidak main catur?"
Pak Arif menoleh, raut wajahnya terlihat khawatir. "Saya juga tidak tahu, Nyonya. Mungkin masih di kamarnya," jawabnya pelan. "Sepertinya dia masih sedih."
Helena menghela napas. Hatinya ikut terasa pedih. Ia membiarkan Fiki, memberinya ruang untuk sendiri, untuk meluapkan kesedihannya. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang bisa menenangkan hati Fiki saat ini. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka hatinya.
Helena tak bisa membiarkan Fiki terus bersedih. Ia tahu Fiki membutuhkan seorang teman, bukan sekadar majikan. Ia memanggil Bi Minah, meminta agar disiapkan teh dan camilan, lalu ia berjalan menuju kamar Fiki. Ia mengetuk pintu perlahan. "Fik, ini saya," katanya lembut. "Boleh saya masuk?"
Tak ada jawaban. Helena pun membuka pintu dan masuk. Ia melihat Fiki duduk di pinggir ranjang, menunduk, dengan mata sembab. Helena duduk di sampingnya, lalu meletakkan teh dan camilan di meja. "Dimakan dulu, Fik," katanya. "Jangan terus-terusan sedih. Nanti sakit."
Fiki hanya menggeleng. "Saya tidak lapar, Bu," bisiknya.
"Tidak bisa begitu," kata Helena. "Hidup itu harus terus berjalan. Kamu tidak bisa terus-terusan begini."
Fiki menoleh, menatap Helena dengan tatapan kosong. "Saya tidak tahu harus bagaimana, Bu," ucapnya. "Saya sudah merencanakan semuanya. Pernikahan, masa depan... Tapi semuanya hancur begitu saja."
Helena menghela napas. Ia tahu, kata-kata saja tidak cukup. Ia pun memeluk Fiki, memberinya kenyamanan yang sama seperti yang Fiki berikan kepadanya. "Tidak apa-apa, Fik," bisiknya. "Tidak apa-apa. Ada saya di sini. Kamu tidak sendirian."
Fiki membiarkan dirinya dipeluk erat oleh Helena. Meskipun ia masih merasa sedikit canggung, ia tidak menolak. Kali ini, pelukan itu terasa berbeda. Bukan lagi pelukan majikan kepada bawahan, melainkan pelukan seorang ibu kepada anaknya. Namun, di balik rasa nyaman itu, Fiki juga merasakan debaran aneh di dadanya.
Satu minggu berlalu Helena menerima surat gugatan cerai dari Anton Wijaya dengan hati yang pasrah. Ia tidak terkejut, pun tidak marah. Ia hanya merasa lelah. Ia tidak melawan, tidak pula menuntut apa-apa, kecuali sebuah toko mebel yang dibangunnya bersama Anton. Rumah mewah yang selama ini menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihan mereka, kini menjadi satu-satunya harta yang ia dapatkan. Ia tahu, di balik semua kemewahan itu, ada kehampaan yang tak bisa diisi dengan harta benda. Ia memilih untuk menerima, dan memulai hidup baru.
Dengan gugatan cerai di tangan, Helena ditemani Fiki mengunjungi toko mebel yang kini menjadi miliknya. Mereka tiba di sebuah bangunan besar, terbuat dari kayu dan kaca, dengan tulisan "Helena Furniture" di atasnya. Helena, yang mengenakan pakaian sederhana, terlihat tenang. Fiki, yang kini sudah menganggap Helena sebagai ibunya, berjalan di sampingnya.
Helena membuka pintu toko, lalu masuk. Fiki mengikuti di belakang. Di dalamnya, berbagai macam mebel modern dan klasik tertata rapi. Helena memeriksa setiap sudut toko. Ia menyentuh setiap mebel, memeriksa setiap ukiran, seolah-olah ia sedang menelusuri kenangan masa lalu. Ia melihat ke arah Fiki. "Fik, bagaimana menurutmu?" tanyanya. "Apakah toko ini bisa bertahan?"
Fiki tersenyum. "Tentu, Bu. Mebelnya bagus sekali," jawabnya. "Saya yakin, toko ini akan sukses."
Helena mengangguk. Ia tahu, di balik semua kemewahan yang dulu ia miliki, toko mebel ini adalah satu-satunya hal yang nyata, yang dibangun dari nol dengan tangannya sendiri. Ia tahu, di sinilah ia akan memulai hidup baru.
Helena memasuki toko dengan Fiki di sisinya. Beberapa karyawan yang sedang sibuk menata furnitur menoleh. Helena memberi isyarat agar mereka berkumpul.
"Nanti, besok, akan ada sofa baru datang," kata Helena dengan suara tegas. "Tolong ditata dengan baik, ya. Letakkan di bagian depan, supaya terlihat dari luar."
Para karyawan mengangguk patuh. Fiki memperhatikan dengan bangga. Helena, yang dulu ia kenal sebagai wanita rapuh, kini tampak seperti seorang pemimpin sejati. Ia tahu, di balik kelembutan Helena, ada jiwa yang kuat dan tegar, yang siap menghadapi segala tantangan.
Setelah memeriksa toko, Helena mengajak Fiki untuk mengunjungi sebuah villa di Puncak. Fiki baru tahu bahwa villa itu adalah usaha keluarga Helena dari orang tuanya. Sebelum berangkat, Helena menelpon seseorang untuk membersihkan villa dan menyiapkan segala sesuatu.
"Fik, kita ke Puncak dulu, ya," ajak Helena, suaranya terdengar bersemangat. "Sudah lama saya tidak ke sana."
Fiki mengangguk. "Baik, Bu," jawabnya. "Tapi, Bu, bukankah villa itu punya Pak Anton?"
Helena tersenyum tipis. "Bukan, Fik. Itu usaha keluarga saya dari orang tua. Saya yang kelola," jelasnya. "Saya tidak pernah mau melibatkan dia."
Fiki terkejut. Ia tidak menyangka Helena memiliki begitu banyak rahasia. Helena lalu menelpon seseorang. " Pak, Tolong bersihkan villanya ya," katanya. "Saya akan ke sana. Siapkan juga makanan dan minuman."
Setelah itu, ia menoleh ke arah Fiki. "Ayo, Fik. Kita berangkat."
Mereka pun meninggalkan toko. Fiki merasa lega. Ia tahu, di balik semua kesedihan yang ia alami, ada sebuah kehidupan baru yang menunggunya, sebuah kehidupan yang penuh dengan kejutan dan petualangan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, mobil yang dikendarai Fiki akhirnya tiba di tujuan. Villa itu berdiri megah di lereng perbukitan, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan pinus. Udara sejuk dan bersih langsung menyambut mereka. Dari jendela mobil, Fiki bisa melihat pemandangan yang menakjubkan.
Di sekitar villa, terdapat kebun teh yang terbentang luas, menciptakan hamparan hijau yang memanjakan mata. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, menambah kesan damai dan tentram. Burung-burung berkicau merdu, seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Fiki merasa lega. Di sini, ia bisa melupakan sejenak kesedihan dan kekecewaannya. Ia bisa merasakan kedamaian yang sama seperti yang dirasakan Helena.
Di teras villa, seorang lelaki dan wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka. Wajah keduanya ramah dan tersenyum tulus. "Selamat datang, Bu," sapa sang wanita. "Semua sudah siap."
Helena membalas sapaan itu dengan senyum hangat. "Terima kasih banyak, ya." Helena mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya kepada mereka. "Ini, buat beli-beli jajan, ya. Kami akan berkeliling sebentar."
"Wah, terima kasih banyak, Bu," jawab lelaki itu. "Kalau begitu, kami pamit pulang dulu.
Keduanya mengangguk, lalu pamit undur diri. Fiki mengikuti Helena masuk ke dalam villa. Udara sejuk dan aroma pinus segera menyambut mereka, kontras sekali dengan panas dan polusi kota yang baru saja mereka tinggalkan. Jendela-jendela besar di ruang utama menghadap langsung ke hamparan kebun teh yang hijau, memberikan kesan damai dan menenangkan. Fiki merasa semua beban di hatinya sedikit terangkat.
Menjelang sore, aroma harum mulai tercium dari dapur villa. Helena, yang mengenakan celemek, sibuk memasak. Ia terlihat sangat menikmati kegiatannya. Fiki, yang sedari tadi duduk di sofa sambil menikmati pemandangan, mendekat.
"Fik, kita jangan pulang dulu, ya?" kata Helena sambil mengaduk spageti di panci. "Saya sudah buatkan spageti. Kita makan malam di sini saja.
Fiki mengangguk setuju. "Iya, Bu," jawabnya. "Saya juga tidak mau pulang dulu. Di sini rasanya lebih damai."
Mereka pun makan malam bersama di teras villa, ditemani suara jangkrik dan aroma pinus yang menenangkan. Fiki merasa bersyukur. Di balik kesedihan yang ia alami, ia menemukan sosok ibu yang begitu perhatian.
Selepas makan malam yang hangat, Helena dan Fiki duduk di teras villa. Angin malam Puncak berhembus sejuk, membawa aroma pinus yang menenangkan. Keduanya terdiam, menikmati keheningan. Fiki yang tadinya masih merasa hancur, kini hatinya terasa lebih tenang.
"Fik," panggil Helena pelan, memecah keheningan. "Besok kita pulang ya. Setelah itu, kita mulai urus toko. Toko itu satu-satunya warisan yang saya pertahankan."
Fiki menoleh, menatap wajah Helena yang diterpa cahaya rembulan. "Baik, Bu. Saya siap membantu," jawabnya tulus.
Helena tersenyum. "Kamu tidak perlu khawatir soal apa-apa lagi, Fik. Mulai sekarang, hidupmu adalah tanggung jawab Ibu."
Fiki tersenyum. Ia merasa beruntung. Di saat ia kehilangan cinta, ia menemukan sebuah keluarga. Di saat ia merasa sendirian, ia menemukan seseorang yang peduli. Ia tahu, di balik semua kesedihan yang ia alami, ada sebuah kehidupan baru yang menunggunya, sebuah kehidupan yang penuh dengan kejutan dan petualangan.
Tapi malam itu, meskipun suasananya damai, Fiki dan Helena sama-sama gelisah. Masalah masing-masing masih mengikuti, membebani pikiran mereka. Keheningan itu terasa berat, bukan lagi menenangkan.
Helena bangkit dari duduknya. Ia masuk ke dalam villa, lalu kembali dengan sebotol wine dan dua gelas. "Kamu mau coba, Fik?" tanyanya sambil menuang wine ke dalam gelas. "Melihat kita begini, sepertinya kita berdua memang belum bisa move on."
Fiki ragu. Namun, melihat wajah Helena yang juga terlihat lelah, ia mengangguk.
Fiki menerima gelas berisi wine dari Helena. Ia meneguknya perlahan. Namun, karena belum terbiasa, ia terbatuk, sedikit menumpahkan minumannya. Helena tersenyum kecil melihatnya.
"Hati-hati, Fik," katanya lembut. Ia mengambil tisu dari meja, lalu membersihkan tumpahan wine itu. "Kamu tidak perlu terburu-buru. Dinikmati saja."Fiki tersenyum malu. Ia merasa canggung.
"Tapi enak kan, Fik?" tanya Helena sambil tersenyum.
Fiki mengangguk perlahan. Rasa hangat menjalar di tenggorokannya. Ia memang belum terbiasa, tapi rasa pahit dari minuman itu seolah menenggelamkan rasa pahit yang ada di hatinya.
"Lumayan, Bu," jawabnya. "Memang beda rasanya."
Helena mengangguk, lalu meneguk wine dari gelasnya.
"Kamu baru mencobanya ya, Fik? Wah, first time minuman mahal," kata Helena sambil tersenyum.
Fiki mengangguk malu. "Iya, Bu," jawabnya. "Di kampung mana ada minuman seperti ini."
Helena tersenyum. "Jangan khawatir, Fik. Mulai sekarang, kamu akan sering mencoba minuman mahal," katanya, mencoba menghibur Fiki. "Dan makanan enak. Dan liburan."
Gelas demi gelas, mereka terus berbincang sambil menikmati minuman itu. Tawa kecil mulai terdengar, menyiratkan kelegaan yang perlahan menggantikan kesedihan. Ketika gelas Helena kosong, ia meraih botol untuk menuang lagi, namun Fiki menghentikannya.
"Sudah, Bu," kata Fiki. "Jangan banyak-banyak, nanti mabuk."
Helena tersenyum, lalu meletakkan botol itu. Ia menatap Fiki, matanya dipenuhi rasa haru. Malam itu, di bawah rembulan, dua jiwa yang terluka menemukan sebuah harapan baru.
Tiba-tiba, kepala Fiki terasa pusing. Perutnya mual. Wajahnya pucat. Helena yang menyadari hal itu segera beranjak. Dengan cemas, ia memapah Fiki menuju kamar mandi.
Di sana, Fiki muntah. Helena dengan sigap memijat-mijit pundaknya. Setelah Fiki selesai, Helena membasuh wajah Fiki, menyuruhnya berkumur, lalu membawanya ke kasur lantai yang ada di depan TV. Helena mengambil selimut, menyelimuti Fiki. "Kamu tidur saja di sini, Fik," katanya lembut. "Besok pasti sudah baikan."
Helena pun merasakan pusing di kepalanya. Rupanya, ia juga minum terlalu banyak malam itu. Ketika hendak menuju kamar, tangannya ditarik. Ia menoleh, melihat Fiki yang duduk di kasur lantai. Ia terduduk di sampingnya.
"Fik, kenapa?" tanyanya lembut.
Fiki hanya diam, matanya sayu namun penuh dengan harapan. Mungkin karena pengaruh alkohol, ia menarik tangan Helena, seolah tak ingin melepaskannya. Fiki tidak mengucapkan satu kata pun, hanya menatap Helena. Pandangannya membuat Helena mengerti, Fiki ingin ia tetap di sana, di sampingnya. tapi ia salah. Tiba-tiba, Fiki memeluknya.
Rasa bersalah dan keinginan untuk melarikan diri dari kenyataan membaur menjadi satu di benak Fiki. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia kehilangan kendali atas dirinya. Ia meremas tubuh Helena, seolah mencari pegangan di tengah badai yang melanda hidupnya.
Helena, yang semula mengira Fiki hanya butuh kehangatan, kini menyadari bahwa Fiki sedang dirasuki nafsu. "Fiki... jangan... kamu mabuk!" bisiknya, mencoba mendorong tubuh Fiki. Namun, usahanya sia-sia. Kekuatan Fiki terlalu besar. Ia tak berdaya. Fiki menjelajahi seluruh bagian tubuhnya. Helena hanya bisa pasrah, air mata menetes, membiarkan semuanya terjadi. Di tengah kegelapan, dua jiwa yang terluka, menemukan kenyamanan yang salah.
Hembusan angin pagi yang dingin menyentuh kulit Fiki. Ia membuka mata perlahan, merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya pegal. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Helena, duduk memeluk lututnya, menatap ke hamparan kebun teh dengan air mata menetes.
Fiki seperti tersadar dari mimpi buruk. Ia ingat, kejadian semalam ternyata bukan mimpi. Rasa sesal dan malu merayap di hatinya. Ia ingin bicara, tapi tak tahu harus memulai dari mana.
Helena memecah keheningan. "Fik, kenapa kamu lakukan itu?" tanyanya, suaranya parau.
Fiki terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia merasa bersalah, tapi juga tidak bisa menjelaskan perasaannya. Ia hanya bisa menunduk, tak berani menatap wajah Helena yang kini terlihat begitu rapuh.
Sesaat setelah Fiki berucap, tamparan keras mendarat di pipinya. Helena menamparnya. Wajahnya yang semula penuh air mata, kini dipenuhi amarah. Ia mendorong Fiki hingga terbaring di kasur.
" Kamu kan tak bisa hamil Bu helena?". kata fiki memegang pipi
" ya, fiki aku tak bisa hamil".
Dengan penuh amarah dan dendam, ia membalas perlakuan Fiki semalam. Ia mengendalikannya. Fiki tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah, merasakan amarah Helena yang meluap-luap.
Beberapa menit kemudian, Fiki seperti kejang. Tubuhnya lunglai, matanya terpejam. Helena hanya bisa menatap Fiki, membiarkan segalanya memasuki tubuhnya. Keduanya terdiam, kehabisan kata-kata, kehabisan tenaga.
Beberapa minggu berlalu. Fiki dan Helena kembali ke rutinitas mereka, namun semuanya terasa berbeda. Vila di Puncak menjadi saksi bisu, dan bukan lagi tempat penyembuhan, melainkan awal dari jurang yang lebih dalam. Keduanya bukan lagi mencari ketenangan dari luka masa lalu, melainkan justru semakin terjerumus dalam hubungan yang penuh ambiguitas dan keputusasaan.
Sikap Fiki yang semula hormat kini dipenuhi oleh tatapan yang tak bisa diartikan. Helena, yang dulu rapuh, kini menampilkan sisi dirinya yang penuh tuntutan dan dominasi. Hubungan majikan dan anak angkat itu kini telah terkikis, digantikan oleh ikatan rumit yang lahir dari kesepian dan rasa dendam. Mereka berdua terperosok, mencari pelarian dari kenyataan yang menyakitkan, dan perlahan-lahan saling menarik ke dalam kegelapan yang sama.
Hubungan mereka kini seperti api dalam sekam. Diam-diam, tanpa disadari orang lain, di mana ada kesempatan, di situ mereka melakukannya.
Di belakang pintu toko yang tertutup, di villa Puncak saat tak ada siapa-siapa, atau bahkan di dalam mobil saat menunggu di parkiran. Hubungan yang dimulai dari luka itu, kini menjadi pelarian, candu, dan bahkan hukuman bagi keduanya. Mereka bukan lagi sepasang kekasih, tapi dua orang yang terikat dalam lingkaran setan.
Keadaan berubah drastis setelah empat bulan. Sebuah perasaan aneh hinggap di benak Helena. Mual, pusing, dan tubuhnya yang terasa berbeda. Ia mencoba menepisnya, tapi perasaan itu semakin kuat. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Fiki, ia membeli alat tes kehamilan.
Dengan tangan bergetar, ia membuka bungkusnya. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak mungkin hamil, pikirnya. Dokter sudah bilang ia tidak bisa hamil. Tapi setelah beberapa menit, dua garis merah muncul di alat tes itu.
Air mata Helena menetes. Bukan air mata kesedihan, melainkan kebingungan dan kebahagiaan yang bercampur. Ia tidak menyangka. Ia bisa hamil.
Helena mengajak Fiki duduk. Wajahnya terlihat tegang, tetapi matanya memancarkan sesuatu yang baru. "Fik... aku... aku hamil."
Fiki membeku. Kata-kata itu seperti guntur di siang bolong. Fiki merasakan campur aduk perasaan. Ada rasa takut, kaget, tapi di sisi lain, ada juga rasa lega. Ia memegang tangan Helena.
"Aku akan menikahimu, Bu Helena."
Helena menatapnya, air mata kembali mengalir di wajahnya.
"Aku tahu, Bu. Siapa lagi yang akan selalu ada di sisiku selain Ibu?" lanjut Fiki.
Perasaan Fiki hancur setelah dikhianati. Tapi, Helena telah membangkitkan kembali semangatnya. Fiki sadar, Helena, wanita yang telah ia lukai, justru hadir dan menjadi penyembuh bagi luka hatinya. Kini, ia akan menjaga wanita itu dan calon bayinya.
"Jangan memanggilku Ibu," kata Helena ketus. "Aku bukan ibu angkatmu lagi."
Fiki terdiam, tapi kemudian tersenyum lembut. "Baik, Sayang," jawabnya.
Helena terkejut, namun kemudian tersenyum. Ia memeluk Fiki erat. "Besok kita ke KUA," bisiknya.
Fiki mengangguk, membalas pelukan itu. Dalam dekapan itu, mereka berdua tahu, sebuah babak baru telah dimulai. Bukan lagi kisah tentang majikan dan sopir, atau ibu dan anak angkat, melainkan tentang dua orang yang terluka, menemukan cinta, dan memulai keluarga baru.

Posting Komentar untuk "Mengikuti Kemauan Bosku Yang Berstatus Janda"