Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SEMUA BERUBAH KETIKA DIA PERGI


 

Cerita ini lanjutan dari kisah yang bejudul Dia Selalu Bersamaku Ketika Suaminya Pergi.

Arianti, yang ditinggal suaminya, Rudi, bekerja di Jakarta, terkejut dan marah karena uang kiriman suaminya telat dan cepat habis. Sebuah pertengkaran terjadi, di mana Rudi mengungkit uang yang ia kirim tidak sedikit. Arianti kemudian menyadari bahwa Rudi mengirim uang lebih sedikit dari biasanya.

Di tengah kebingungannya, Arianti bertemu dengan Lukman, tetangga yang juga teman dekatnya. Lukman mendengar kegelisahan Arianti dan berusaha menenangkannya. Namun, saat dalam perjalanan pulang dari pasar, seorang teman Lukman yang baru pulang dari Jakarta memberi kabar bahwa Rudi sudah menceraikan Arianti dan menikah lagi.

Kabar itu menghancurkan Arianti, yang mencoba mengakhiri hidupnya. Lukman berhasil menggagalkan usahanya, dan keluarga Lukman serta para tetangga memberikan dukungan dan nasihat. Dengan hati yang perlahan pulih, Arianti memutuskan untuk menjadi TKW di Taiwan untuk mandiri.

Pada malam keberangkatannya, Arianti dan Lukman merapikan barang-barang. Arianti menawarkan uang sebagai tanda terima kasih, tetapi Lukman menolaknya dengan emosi yang tidak terduga. Setelah Arianti mendesaknya, Lukman mengaku bahwa ia menyukai Arianti. Arianti kemudian memberikan janji, meminta Lukman untuk menunggunya selama tiga tahun. Lukman setuju, dan ia pergi meninggalkan Arianti dengan hati yang kini dipenuhi harapan.

Perjalanan Arianti dimulai. Dengan diantar oleh keluarga dan Lukman, ia berangkat ke bandara. Senyum terakhir dan janji yang terucap di bibir Lukman menjadi bekal terkuatnya. Di dalam pesawat, ia menatap awan dari jendela, memikirkan masa depan yang penuh ketidakpastian.

Setibanya di Bandara Internasional Taoyuan, Taiwan, ia disambut oleh agen penyalur tenaga kerja. Udara musim dingin yang menusuk kulit, serta papan petunjuk dalam bahasa yang tak ia kenali, membuatnya merasa sangat kecil dan sendirian. Ia dibawa ke sebuah apartemen yang sederhana, tempat tinggal majikannya, seorang wanita paruh baya.

Hari-hari pertamanya di Taiwan terasa berat. Ia harus menyesuaikan diri dengan bahasa, makanan, dan rutinitas yang sama sekali baru. Kerinduan akan kampung halaman, masakan ibunya, dan wajah Lukman, menjadi beban di dadanya. Namun, setiap kali rasa putus asa itu datang, ia akan teringat janji yang ia buat. Janji yang memberinya kekuatan untuk terus maju. Ia tahu, di sana, di kampung halaman, ada seseorang yang menunggunya.

Di desa, kehidupan berjalan seperti biasa, namun tidak bagi Lukman. Hari-harinya terasa kosong tanpa kehadiran Arianti. Rumahnya yang dulu menjadi tempatnya singgah kini hanya menjadi bangunan yang sunyi. Setiap kali melewati jalan di depan rumah Arianti, Lukman tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh, berharap melihat sosok yang ia rindukan.

Rasa rindu itu datang setiap saat. Saat ia menikmati bubur buatan ibunya, saat ia bercanda dengan teman-temannya, atau saat ia duduk sendirian di teras. Namun, di tengah semua rasa hampa itu, ada satu hal yang terus menyalakan semangatnya: janji yang telah ia buat.

Lukman mulai bekerja lebih giat. Ia tidak lagi menghabiskan waktu luangnya dengan teman-temannya. Setiap rupiah yang ia hasilkan kini memiliki arti lebih. Ia menabung dengan tekun, membayangkan masa depan yang akan ia bangun bersama Arianti tiga tahun lagi. Ia tahu, penantian ini akan terasa panjang, tetapi ia punya sebuah tujuan.

Waktu berlalu begitu cepat. Beberapa bulan sudah Arianti berada di Taiwan. Musim dingin yang menusuk perlahan digantikan oleh hangatnya musim semi. Arianti kini mulai terbiasa dengan rutinitasnya sebagai pekerja rumah tangga. Ia tidak lagi canggung. Ia sudah bisa berkomunikasi dengan majikannya, seorang wanita paruh baya, meskipun dengan bahasa yang sederhana.

Pekerjaannya sangat berat, namun ia menjalaninya dengan tekad kuat. Setiap pagi ia bangun lebih awal, membersihkan rumah, memasak, dan menemani majikannya berobat. Kadang, rasa lelah dan rindu datang tak tertahankan. Setiap malam, ia akan menyempatkan diri untuk menelepon orang tuanya yang berada di lokasi transmigrasi di Sulawesi. Obrolan singkat itu menjadi pengobat rindu yang paling ampuh.

Namun, yang paling ia tunggu-tunggu adalah saat Lukman menelepon. Dalam percakapan singkat itu, Arianti selalu menceritakan hari-harinya, dan Lukman mendengarkan dengan sabar. Tawa dan canda mereka di telepon menjadi penguat hati. Di balik semua kelelahan, ada sebuah janji yang selalu ia pegang, sebuah janji yang membuatnya tetap kuat.

Suatu akhir pekan, Arianti menghadiri acara musik yang diadakan oleh komunitas TKI. Di tengah kesibukan kerja yang melelahkan, acara ini menjadi oase yang menyegarkan. Tawa, musik, dan percakapan dalam bahasa Indonesia membuatnya merasa sejenak pulang ke kampung halaman.

Di tengah keramaian itu, ia berpapasan dengan seorang pria. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Reza, seorang pekerja pabrik asal Tangerang. Dari gerak-geriknya, Reza tampak menaruh hati pada Arianti. Matanya kerap mencuri pandang, dan ia berusaha membuat percakapan tetap mengalir. Ia mencoba mencari tahu tentang Arianti, tentang pekerjaannya, dan tentang asalnya.

Namun, Arianti tidak menyadari hal itu. Baginya, Reza hanyalah teman baru di negeri orang. Ia menanggapi percakapan itu dengan ramah, tetapi pikirannya tetap terfokus pada janji yang ia buat dan tujuan utamanya untuk bekerja. Reza bisa merasakan ada dinding yang tak terlihat antara mereka. Ia tahu, hati Arianti sudah memiliki pasangan.

Di tengah obrolan santai mereka, Reza melihat kesempatan. Ia mengeluarkan ponselnya. "Arianti, boleh minta nomor ponselnya? Supaya kalau ada acara begini lagi, aku bisa kabarin."

Arianti tersenyum dan mengangguk. "Boleh, kok. Tentu saja." Ia bertukar nomor ponsel dengan Reza. Tepat setelah itu, ponselnya bergetar, menampilkan nama yang selalu ia tunggu-tunggu. Lukman. Wajah Arianti langsung sumringah.

"Lukman!" sapanya dengan riang. Ia kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke arah Reza. "Lukman, kenalin ini temanku, Reza. Aku ketemu di acara komunitas ini. Dia dari Tangerang, lho!" ucapnya dengan bangga, seolah ingin Lukman tahu bahwa ia tidak sendirian di sana.

Reza melambaikan tangan, tersenyum canggung. Sementara itu, Lukman di layar ponsel hanya terdiam, menatap Arianti dan pria di sebelahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Melihat Lukman terdiam, Arianti tertawa kecil. Ia segera menggerakkan ponselnya, mengarahkan kamera ke teman-teman yang lain. Semuanya melambaikan tangan dengan ramah ke arah Lukman, menyapa dengan riang.

"Ini dia komunitas TKI di sini, Lukman. Rame, kan?" ucap Arianti, suaranya penuh kebanggaan.

Lukman, yang awalnya menatap dengan tatapan kosong, kini tersenyum. Senyumnya lebar dan tulus. Ia merasa lega dan senang melihat Arianti dikelilingi oleh orang-orang baik. Hatinya menghangat, ia tidak lagi khawatir.

"Iya, Teh. Aku senang Teteh punya banyak teman di sana. Jaga diri baik-baik, ya," jawab Lukman.

Arianti tersenyum, merasa bahagia. Di tengah jarak yang memisahkan, ia tahu Lukman selalu mendukungnya, dan kepercayaan di antara mereka tetap utuh.

Suara musik mulai mengeras, memecah keheningan di sekitar Arianti. Ia tersenyum, menyadari percakapan mereka harus berakhir.

"Lukman, musiknya mulai kencang. Aku tutup dulu ya?" ucap Arianti.

Di layar ponsel, Lukman mengangguk, senyumnya tetap terukir. "Iya, Teh. Nanti kalau sudah sampai rumah, telepon aku lagi, ya," balasnya.

"Pasti!" jawab Arianti riang. Panggilan pun berakhir. Arianti memasukkan ponselnya ke dalam saku, hatinya terasa hangat. Ia tahu, meskipun jauh, Lukman selalu ada di sisinya.

Setelah mengakhiri panggilan, Arianti tersenyum dan kembali larut dalam suasana. Namun, tiba-tiba Reza mendekat. Ia harus bicara lebih keras agar suaranya terdengar jelas di tengah musik yang mulai memekakkan telinga.

"Pacar kamu orang mana?" tanya Reza, pandangannya lurus ke Arianti.

Arianti sedikit kaget, namun ia tertawa kecil. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Reza agar bisa menjawab dengan jelas.

"Bukan pacar. Itu Lukman, temanku di desa," jawab Arianti. "Dia dari kampungku juga."

"Lukman bilang dia menyukaiku, tapi aku minta dia menunggu tiga tahun," jelas Arianti. Ia tersenyum simpul, matanya menerawang. "Jadi, sekarang kami masih sebatas teman baik. Dia menungguku, dan aku bekerja untuk masa depanku."

Reza mengangguk, menunjukkan bahwa ia mengerti. Namun, di dalam hatinya, ia merasa ada celah. Arianti dan Lukman hanyalah sebatas "teman baik" yang terikat sebuah janji. Waktu tiga tahun itu terasa sangat lama, dan ia melihatnya sebagai sebuah peluang.

"Aku mengerti, Arianti. Kamu hebat, punya tekad sekuat itu," ucap Reza dengan tulus. "Kalau kamu butuh bantuan di sini, jangan sungkan ya. Aku kenal beberapa orang. Lagipula, kita kan sama-sama perantau. Sudah sepantasnya saling bantu."

Arianti tersenyum hangat. 

Matahari sudah condong ke barat saat Lukman selesai membersihkan kebunnya. Peluh membasahi kaosnya, dan debu menempel di sekujur tubuh. Ia berjalan menuju gubuk kecil di pinggir kebun, tempatnya biasa beristirahat. Ia menuangkan air dari teko ke gelas, lalu duduk di bangku kayu sambil menatap hamparan kebun yang kini sudah bersih.

Di tengah kelelahan, pikirannya melayang jauh. Ia membayangkan Arianti di Taiwan. Apakah ia sudah makan? Apakah ia baik-baik saja?  Semua pertanyaan itu memenuhi benaknya. Lukman mengambil ponselnya, membuka galeri, dan menatap foto terakhir Arianti saat mereka berpisah. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya.

Ia tahu, jarak memisahkan mereka. Ia juga tahu, Arianti kini menghadapi dunia yang sama sekali berbeda. Namun, setiap ayunan parang yang membersihkan rumput, setiap tetes keringat yang jatuh, semua ia lakukan dengan satu tujuan: memenuhi janji yang telah ia buat. Janji itu memberinya kekuatan untuk terus menunggu.

Tak lama kemudian, ponsel Arianti berdering. Nama Lukman muncul di layar, dan senyum lebar segera mengembang di wajahnya. Rasa lelah dan galau yang sempat menghinggapinya lenyap seketika.

"Halo, Lukman," sapa Arianti riang.

"Halo, Teh. Gimana, sudah sampai rumah?" tanya Lukman dengan suara hangat.

Arianti menceritakan semua kejadian di acara komunitas, termasuk saat ia bertemu Reza. Ia menceritakannya dengan polos, tanpa menyembunyikan apa pun. Lukman mendengarkan dengan seksama, sesekali tertawa saat Arianti menceritakan hal-hal lucu.

Di akhir percakapan, Lukman berujar, "Aku senang Teh banyak teman di sana. Itu bagus. Tapi ingat, jangan lupa jaga diri baik-baik, ya."

"Pasti, Lukman," jawab Arianti, hatinya terasa hangat mendengar nada perhatian dalam suara Lukman.

Panggilan telepon dari Lukman berakhir, meninggalkan Arianti dengan hati yang hangat. Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Rupanya sebuah pesan dari Lukman.

"Lukman, Teteh mau minta tolong, boleh?"

"Boleh, Teh. Kenapa?" jawab Lukman dengan cepat.

"Rumahku kan kosong. Itu kunci pintunya sudah hilang. Lukman tempati saja ya rumahku? Pintunya jebol saja," pinta Arianti.

Di seberang sana, Lukman terdiam membaca pesan itu. Jantungnya berdegup kencang. Permintaan Arianti bukan hanya sekadar meminta, tapi juga sebuah isyarat kepercayaan. Ia seperti meminta Lukman untuk menjadi penjaga rumahnya, penjaga hati dan masa depannya.

Lukman membalas pesan itu dengan penuh tekad. "Siap, Teh. Akan aku jaga rumahmu baik-baik."

Tak lama setelah Lukman membalas pesannya, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan dari Arianti masuk lagi.

"Lukman, Teteh minta tolong satu lagi," tulisnya. "Besok tolong buat rekening bank, ya? Nanti Teteh kirim uang untuk renovasi rumah, sama untuk upah kamu selama di sana."

Lukman terdiam. Ia menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Ia terkejut Arianti menawarkan uang, tetapi ia juga merasa tersentuh. Arianti tidak hanya memberinya tempat tinggal, tapi juga mempercayainya untuk mengelola uangnya dan mengerjakan proyek renovasi. Ini adalah bentuk kepercayaan yang jauh lebih besar dari sekadar janji.

Dengan mantap, Lukman mengetik balasannya, "Iya, Teh. Besok aku urus. Terima kasih banyak."

Pagi itu, di tengah kesibukannya di dapur, senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah Arianti. Ia sedang mencuci piring sambil bersenandung kecil. Keputusan untuk meminta Lukman menempati rumahnya dan merenovasinya telah memberinya ketenangan dan semangat baru.

Setiap tetesan air yang membasahi tangannya, setiap goresan sabun di piring, kini terasa berarti. Ia bekerja bukan lagi sekadar untuk melarikan diri dari masa lalu, melainkan untuk membangun masa depan. Rumah yang dulu hanya menjadi saksi bisu kehancuran, kini akan menjadi simbol harapan.

Di tengah kesibukan itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Reza. Ia bertanya apakah Arianti ada waktu luang untuk makan siang bersama. Arianti tersenyum, membalas dengan sopan bahwa ia sibuk. Meskipun Reza ramah dan baik, hati Arianti tidak pernah berpindah. Fokusnya tetap pada satu janji, satu tujuan, dan satu nama: Lukman. Ia tahu, di Indonesia, seseorang sedang bekerja keras untuk mewujudkan mimpi mereka berdua.

Pagi itu, Lukman bersiap pergi ke bank. Di dalam tas selempangnya, ia membawa KTP dan beberapa lembar uang yang ia siapkan untuk biaya administrasi. Di kepalanya, terbayang-bayang senyum Arianti dan rumah yang akan ia renovasi. Dengan penuh semangat, ia menaiki motornya.

Belum jauh ia melaju, seorang gadis menghadang di tengah jalan. Ia mengenakan kaus hitam, celana jins pendek, dan rambutnya diikat asal. Penampilannya yang modern dan wajahnya yang asing jelas menunjukkan ia bukan warga kampung itu.

"Bang, mau ke pasar, kan?" tanyanya dengan suara lantang. Lukman sedikit terkejut, namun ia mengangguk. "Aku boleh nebeng, enggak? Aku lagi liburan di tempat saudaraku. Namaku Saskia," lanjutnya tanpa ragu.

Lukman mengangguk lagi, mempersilakan Saskia naik. Ia tidak bisa menolak permintaan itu. Dengan hati-hati, Saskia duduk di jok belakang motor Lukman.

Lukman memutar kunci kontak motornya. Setelah motornya melaju perlahan, ia mencoba memulai percakapan. "Adik ini, tinggal di mana? Saudara kamu namanya siapa?"

"Pak Hakim," jawab Saskia dengan santai.

Lukman sedikit terkejut, karena Pak Hakim adalah salah satu tokoh terpandang di desa. "Oh, keponakan Pak Hakim, ya? Aku Lukman."

"Iya," balas Saskia.

"Kenapa senyum-senyum, Bang?" tanya Saskia, membuat Lukman terkejut dan sedikit malu. Ia pun mengalihkan pandangannya ke jalan di depannya.

Lukman tersenyum canggung. "Enggak, kok. Enggak apa-apa," jawabnya, sedikit salah tingkah karena kepergok. Untuk mengalihkan perhatian, ia bertanya, "Memangnya kamu ke pasar mau ngapain?"

"Mau ke bank, ambil uang," balas Saskia.

"Oh... kebetulan sekali," gumam Lukman, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku juga mau ke bank."

Saskia yang mendengarnya langsung tersenyum. "Kalau begitu, pulangnya bareng lagi, ya?" pintanya tanpa ragu.

Lukman mengangguk, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Pertemuan tak terduga ini terasa begitu unik.

Setelah semua urusan di bank selesai, Lukman segera mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menelepon Arianti. Ponselnya berdering beberapa kali, namun tak ada jawaban. Mungkin Arianti sedang sibuk, pikir Lukman, mencoba mengerti. Ia menyimpan kembali ponselnya dengan sedikit kecewa.

Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkannya.

"Pacarnya, ya?"

Lukman menoleh, terkejut. Saskia sudah berdiri di belakangnya. Ia tersenyum jahil, melihat Lukman yang baru saja meletakkan ponsel dengan wajah agak murung.

Lukman terkejut mendengar pertanyaan Saskia. Sebelum ia sempat berucap, Saskia tersenyum dan menyodorkan sebuah kaleng minuman dingin.

"Nih, buat Abang," ujarnya. Lukman menerimanya dengan sedikit ragu. "Aku lihat tadi Abang nelpon. Pacarnya, ya?" ulang Saskia, kali ini nadanya lebih santai.

Lukman menatap minuman di tangannya, lalu beralih menatap Saskia. "Bukan, cuma... teman."

Saskia tersenyum, seolah tidak percaya. "Teman kok nelponnya sampai segitunya? Kayaknya serius banget, lho."

Lukman hanya tersenyum tipis. Ia tak lagi menanggapi ucapan Saskia, dan memilih untuk membuka kaleng minuman yang gadis itu berikan. Ia lalu menaiki motornya kembali. Saskia pun duduk di belakangnya. Di jok belakang, Saskia tak banyak bicara. Ia menopang dagunya, sesekali matanya melirik punggung Lukman yang terlihat tegap.

Selama perjalanan pulang, hanya suara motor yang memecah keheningan. Lukman memikirkan percakapan mereka. Kata-kata Saskia tentang "teman yang serius" terus terngiang-ngiang di telinganya. Sementara itu, Saskia hanya memperhatikan pemandangan. Ia merasa Lukman berbeda dari pria-pria kota yang ia kenal. Ada kesederhanaan dan ketulusan yang terpancar dari dirinya.

Tak lama, motor Lukman berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar kokoh. "Sudah sampai," kata Lukman.

Lukman dan Saskia baru saja turun dari motor ketika seorang pria berpeci haji keluar dari rumah. Wajahnya terlihat cemas.

"Dari mana ini gadis cantik? Keluar enggak bilang-bilang," ucapnya.

Saskia tersenyum, lalu menghampiri pria itu. "Maaf, Uwa. Dari bank, ambil uang," jawabnya.

"Ya bilang dulu dong, Uwa bisa antar," balas pria itu, yang ternyata Pak Hakim, paman Saskia. "Iya, maaf, Uwa," ucap Saskia.

Kemudian, Pak Hakim beralih menatap Lukman. "Ini dari mana?" tanyanya.

"Lukman, Pak," jawab Lukman sopan. "Anaknya Pak Kosim."

Wajah Pak Hakim langsung berubah. "Oh, Lukman anaknya Kosim? Dulu sering kerja di sawah Uwa," kenangnya. "Kalian ketemu di mana?"

Lukman menjelaskan ia bertemu Saskia di jalan. Pak Hakim mengangguk-angguk, lalu menoleh ke Saskia. "Maaf, ya, Lukman. Anak ini memang agak bandel, suka pergi enggak bilang-bilang," katanya.

Lukman mengangguk mengerti. "Iya, Pak. Tidak apa-apa," jawabnya sopan. "Kalau begitu, saya pamit dulu."

"Terima kasih, Bang Lukman," ucap Saskia sambil tersenyum.

Lukman mengangguk, lalu menaiki motornya. Ia melambaikan tangan kepada Pak Hakim dan Saskia, lalu melaju pergi. Di perjalanan pulang, pikirannya kembali melayang. Ia teringat percakapannya dengan Arianti di telepon, dan kini ia sudah berhasil membuat rekening bank atas permintaannya. Ia merasa senang, ada kebahagiaan tersendiri saat ia berhasil mewujudkan keinginan Arianti.

Setelah seharian sibuk bekerja, Arianti akhirnya bisa beristirahat di kamarnya. Ia meraih ponselnya. Layar ponsel menunjukkan sebuah panggilan tak terjawab dari Lukman.

Tanpa pikir panjang, ia segera menelepon balik. Ponsel Lukman berdering. Beberapa saat kemudian, suara Lukman yang hangat terdengar dari seberang sana, "Halo, Teh."

"Lukman, Teteh baru lihat ada panggilan tak terjawab," ucap Arianti.

"Tidak apa-apa, Teh. Aku cuma mau kasih tahu, tadi aku sudah ke bank. Sudah buka rekening," jawab Lukman.

Senyum merekah di wajah Arianti. Hatinya dipenuhi rasa haru. Lukman benar-benar mewujudkan janji mereka. Lukman lalu bercerita tentang betapa repotnya mengurus administrasi di bank, dan Arianti mendengarkan dengan sabar sambil sesekali tertawa.

"Jadi, sekarang kita sudah bisa mulai menabung untuk renovasi," kata Lukman, suaranya penuh semangat.

Arianti tersenyum. "Iya, Lukman. Nanti Teteh kirim uang. Kamu sabar-sabar ya di sana," balasnya. Mereka berdua lalu mengobrolkan hal-hal ringan tentang keseharian. Arianti bercerita tentang makanan Taiwan yang kadang membuatnya rindu masakan ibunya, dan Lukman menceritakan betapa sepinya kampung tanpa tawa Arianti.

Di ujung percakapan, keduanya merasa lebih dekat dari sebelumnya. Telepon itu adalah penguat hati bagi mereka, pengingat akan janji yang akan mereka jaga.

Di dalam pabrik yang bising, Reza sibuk mengemas barang. Namun, pikirannya tidak berada di sana. Ia terus teringat pada Arianti. Ia mengeluarkan ponsel, membaca ulang balasan pesan dari Arianti yang singkat. Ia mengerti, Arianti adalah wanita yang baik dan fokus pada tujuannya.

Hati Reza berbisik, ia tidak akan menyerah begitu saja. Janji tiga tahun yang diucapkan Arianti memang kuat, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki kesempatan. Baginya, tiga tahun adalah waktu yang sangat lama, dan ia bisa mencoba mengisi kekosongan hati Arianti dengan kehadirannya. Reza tidak berniat merebut Arianti dari Lukman, ia hanya ingin menjadi orang yang selalu ada di saat Arianti merasa kesepian.

Malam harinya, setelah lelah bekerja, Reza membuka ponselnya. Ia mengetik sebuah pesan panjang untuk Arianti, menanyakan kabar dan menawarkan untuk membantunya. Ia berharap, kali ini Arianti akan memberikan respons yang lebih dari sekadar jawaban singkat.

Malam itu, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya dan mengobrol ringan dengan Lukman, Arianti kembali membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Reza. Kali ini, pesannya cukup panjang, tidak seperti pesan-pesan singkat sebelumnya. 

Arianti membaca pesan itu, dan senyum tipis terukir di wajahnya. Ia merasa terharu dengan kebaikan Reza. Ia memang memiliki tujuan dan janjinya sendiri, tetapi memiliki seorang teman dari kampung halaman di negeri yang jauh terasa sangat menghangatkan hati.

Ia membalas pesan Reza dengan hati-hati.

"Terima kasih banyak, Reza. Kamu baik sekali. Untuk saat ini aku masih bisa mengurus semuanya sendiri. Tapi kalau aku butuh bantuan, aku pasti akan menghubungimu."

Setelah hari itu, Reza tak pernah berhenti mengirim pesan. Setiap pagi dan sore, ia selalu menyapa Arianti, menanyakan kabarnya, dan sesekali bercerita tentang pekerjaannya di pabrik. Arianti selalu membalas, tetapi ia tak pernah membiarkan percakapan itu menjadi terlalu dalam.

Namun, suatu hari, sebuah kekosongan besar melanda hatinya. Sudah tiga hari Lukman tak ada kabar. Ponselnya sepi. Panggilan tak terjawabnya tak pernah dibalas. Arianti mencoba menelepon lagi, namun tetap tak ada respons. Perasaan cemas, kesal, dan kecewa bercampur jadi satu.

Di tengah perasaan itulah, Reza mengirim pesan lagi.

"Kerja capek banget ya, Arianti? Besok libur? Kalau iya, mau makan di luar bareng?"

Arianti menatap pesan itu. Dalam keadaan normal, ia pasti akan menolak dengan halus. Namun, kekecewaannya pada Lukman begitu besar. Ia pun membalasnya dengan singkat.

"Iya, aku mau."

Di hari libur, Arianti dan Reza bertemu di stasiun kereta. Arianti mengenakan pakaian kasual, berusaha menutupi kegelisahan hatinya. Ia tidak merasa bersemangat, melainkan hanya ingin mengalihkan pikiran dari Lukman.

Reza menyambutnya dengan senyum hangat. Ia mengajak Arianti ke sebuah restoran Indonesia yang ramai, tempat mereka bisa merasa seolah-olah berada di kampung halaman. Mereka memesan makanan dan mulai mengobrol. Reza adalah pendengar yang baik. Ia bertanya tentang pekerjaan Arianti, tentang keluarganya, dan tentang harapan-harapannya.

Arianti menemukan dirinya merasa nyaman berbicara dengan Reza. Ia menceritakan kesulitan di tempat kerjanya dan betapa ia merindukan suasana desa. Namun, setiap kali ia ingin menceritakan tentang Lukman, ia mengurungkan niatnya. Ada rasa bersalah yang menusuk, seolah ia sedang mengkhianati sebuah janji.

Reza hanya tersenyum dan berkata, "Aku mengerti. Hidup di sini memang berat. Tapi, jangan khawatir, kamu enggak sendirian." Kata-kata itu menenangkan, tetapi di hati kecil Arianti, ia tahu ia tidak boleh terlalu nyaman.

Di tengah obrolan mereka, ponsel Arianti bergetar. Layarnya menampilkan nama Lukman. Jantung Arianti berdebar kencang. Ia segera meminta izin ke toilet, meninggalkan Reza dengan wajah penuh tanya. Di toilet yang sunyi, Arianti mengangkat panggilan itu.

"Kamu ke mana saja, Lukman? Kenapa tidak ada kabar? Aku menelepon, kamu tidak angkat. Kenapa? Aku sudah khawatir sekali," sembur Arianti, suaranya tercekat menahan tangis dan amarah.

Di seberang sana, Lukman mendengarkan dengan sabar. "Maafkan aku, Teh," jawabnya lirih. "Ponselku jatuh dari motor dan rusak total. Aku baru bisa beli ponsel bekas setelah menjual hasil sayuran dari kebun."

Amarah Arianti langsung lenyap, digantikan rasa bersalah. "Astaga, Lukman! Kenapa tidak pakai uangku? Kenapa tidak bilang?" tanyanya. Lukman terdiam, tidak menjawab. Kebisuan itu lebih menusuk daripada apa pun. Arianti tahu, Lukman terlalu bangga untuk menerima uangnya, meskipun ia butuh.

Hening beberapa saat. Lukman akhirnya membuka suara. "Maafkan aku, Teh. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir."

Air mata Arianti mengalir, bukan karena marah, melainkan karena rasa haru dan bersalah. "Iya, Lukman. Aku mengerti," jawabnya lirih. "Kamu tidak salah. Justru aku yang salah karena tidak mengerti keadaanmu."

Arianti menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Sudah ya, teleponnya Teteh akhiri dulu. Teteh mau balik melanjutkan pekerjaan."

"Iya, Teh. Hati-hati," balas Lukman. Panggilan pun terputus.

Arianti berdiri di depan cermin toilet, menatap pantulan dirinya yang terlihat kacau. Ia tahu, ia harus segera kembali ke meja makan, tempat Reza menunggu. Tapi kali ini, perasaannya jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Arianti membasuh wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menyembunyikan sisa-sisa emosi yang membekas. Setelah merasa sedikit tenang, ia kembali ke meja makan. Reza sudah menunggunya dengan wajah khawatir.

"Arianti, kamu tidak apa-apa?" tanyanya lembut.

Arianti hanya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Reza. Terima kasih sudah menunggu," jawabnya, suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Ia duduk, tetapi pandangannya kosong. Makanan di depannya sudah tidak terasa enak lagi. Pikirannya dipenuhi bayangan Lukman yang membeli ponsel bekas dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.

Reza menyadari perubahan sikap Arianti. Ia tidak bertanya lagi. Suasana di meja makan menjadi canggung. Obrolan hangat yang tadi mereka nikmati kini berganti hening yang menusuk. Reza hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanya, sementara Arianti hanya ingin malam itu segera berakhir.

Reza menyadari bahwa ia tidak akan bisa mendapatkan kembali suasana ceria tadi. Ia pun mengambil inisiatif untuk mengakhiri malam itu.

"Arianti," katanya pelan. "Kalau kamu lagi tidak enak pikiran, kita pulang saja. Nanti kapan-kapan kita bisa makan lagi."

Arianti menoleh, menatap Reza. Sebuah senyum tipis, namun tulus, terukir di wajahnya. Senyum itu bukan karena senang, melainkan karena ia merasa sangat dihargai. Ia mengangguk, merasa lega karena Reza memahami perasaannya.

"Terima kasih, Reza," jawabnya lirih. "Ayo, kita pulang."

Waktu terus berjalan. Dua setengah tahun berlalu sejak Ariana meninggalkan desa. Impian untuk membangun rumah bersama Lukman terasa semakin jauh. Hubungan mereka, yang dulu terjalin erat lewat telepon, kini dipenuhi kesalahpahaman dan keheningan. Pesan yang tak dibalas, panggilan yang terlewatkan, dan perbedaan waktu yang semakin terasa berat perlahan mengikis janji yang pernah mereka buat.

Di tengah kekosongan itu, Reza terus hadir. Ia tidak pernah memaksa, hanya selalu ada. Ia selalu mengirim pesan di pagi hari, menanyakan kabar Arianti. Ia sering mengajak Arianti dan teman-temannya makan siang bersama. Reza tahu, ia sedang menunggu sebuah celah, dan celah itu kini semakin lebar.

Suatu malam, setelah seharian lelah bekerja, Arianti membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Lukman, namun isinya hanya pertanyaan singkat yang terkesan dingin. Belum sempat ia membalas, pesan lain masuk dari Reza. Ia bertanya apakah Arianti sudah makan dan menawarkan untuk mengantarkan makanan jika belum. Arianti menatap kedua pesan itu dengan perasaan campur aduk. Hatinya lelah, dan ia tidak tahu lagi siapa yang sebenarnya sedang ia tunggu.

Ponsel Arianti berdering di malam yang sunyi. Ia melihat nama Lukman di layar. Setelah beberapa saat, ia mengangkat telepon itu.

"Halo, Lukman," sapa Arianti, suaranya terdengar lelah.

"Teteh kemana sih, kok jarang angkat telepon?" tanya Lukman, tanpa basa-basi. Nadanya terdengar kesal, tidak seperti Lukman yang dulu.

Ariana menghela napas panjang. "Maaf, Lukman. Aku sibuk sekali. Pekerjaanku sekarang lebih banyak. Jam kerjanya panjang. Kadang aku sudah terlalu lelah untuk memegang ponsel," jawab Ariana, mencoba menjelaskan.

Namun, Lukman tidak terlihat mengerti. "Aku di sini juga capek, Teh. Tapi aku selalu menunggu kabar darimu," balasnya.

Arianti terdiam. Ia tahu Lukman benar, tapi ia juga merasa lelah. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa kerinduan dan kecemasan itu kini terasa lebih berat karena janji yang semakin terasa mustahil.

"Terus Teteh harus gimana, Lukman?" ucap Arianti, suaranya bergetar. "Aku juga pengen ngobrol lama sama kamu. Tapi aku benar-benar capek."

Di seberang sana, Lukman terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kebisuan itu menusuk hati Arianti, lebih dalam dari sekadar kata-kata. Ia tahu Lukman tidak marah, tetapi ia juga merasakan hal yang sama—sebuah ketidakberdayaan yang besar.

Telepon itu menjadi senyap. Keduanya terhubung, tetapi terasa sangat jauh. Arianti merasa sendirian, seolah ia sedang berbicara dengan bayangan. Ia merasa janji yang mereka buat perlahan-lahan runtuh, dan ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.

Air mata Arianti mengalir, membasahi pipinya. Ia menatap layar ponselnya, membaca ulang pesan terakhir dari Lukman. Kebisuan di seberang sana terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata. Ia sadar, hubungan mereka saat ini tidak lagi sehat. Jarak telah mengikis segalanya, dan mereka berdua hanya saling menyakiti.

Dengan tangan bergetar, Arianti mengetik sebuah pesan untuk Lukman. Bukan pesan yang berisi amarah, melainkan pesan yang penuh dengan kesedihan dan keputusan berat.

"Lukman, mungkin kita harus saling memberi ruang dulu. Jangan saling menghubungi, ya. Sampai salah satu dari kita benar-benar bisa menerima, bahwa mungkin kita hanya harus berteman saja. Aku butuh waktu."

Ia menekan tombol kirim. Ponsel Lukman bergetar. Ia membaca pesan itu, dan ponsel di tangannya terasa berat. Ia tidak membalas. Ia mengerti. Keputusan itu mungkin adalah satu-satunya jalan.

Satu minggu telah berlalu dalam keheningan. Ponsel Arianti tidak pernah berdering atas nama Lukman. Awalnya, ia berharap Lukman akan menelepon atau mengirim pesan, namun harapan itu pupus. Arianti merasa hampa dan kesepian. Ia menghabiskan hari-harinya dengan bekerja, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa sakit di hatinya.

Pada hari liburnya, sebuah pesan masuk dari Reza. Ia mengajak Arianti pergi makan siang dan menonton film. Awalnya, Arianti menolak. Hatinya terlalu sakit untuk bersenang-senang. Namun, Reza tidak menyerah. Ia mengirimkan pesan yang berisi, "Tidak apa-apa kalau cuma sebentar. Kita cari udara segar saja, biar kamu tidak terus-terusan sedih."

Arianti menatap pesan itu. Ia sadar, ia tidak bisa terus-menerus berlarut-larut dalam kesedihan. Ia membutuhkan sebuah distraksi.

 Pada hari libur, Arianti dan Reza bertemu. Kali ini, perasaan Arianti sedikit berbeda. Ia tidak lagi canggung, hanya berusaha keras untuk tidak memikirkan Lukman. Reza menyambutnya dengan senyum, dan langsung mengajaknya makan siang di sebuah restoran yang menyajikan hidangan lezat.

Di sana, Reza melakukan segalanya untuk membuat Arianti tersenyum. Ia bercerita tentang hal-hal lucu yang terjadi di pabrik. Arianti mendengarkan dengan seksama dan sesekali tertawa. Tawa yang tulus dan sudah lama tidak ia rasakan.

Setelah makan, mereka pergi menonton film. Sepanjang film, Arianti merasa dirinya bisa melupakan sejenak masalah yang ada di hatinya. Namun, di antara tawa dan hiburan, ada rasa bersalah yang menusuk. Reza sangat baik, dan ia menyadari hal itu. Tapi, ia tidak bisa mengabaikan suara kecil di hatinya yang berteriak bahwa ia sedang mengkhianati sebuah janji.

Saat Reza mengantarnya pulang, Arianti berterima kasih. "Terima kasih banyak, Reza. Aku senang sekali hari ini," ucapnya tulus. Reza tersenyum. "Sama-sama, Arianti. Lain kali kita jalan lagi ya?"

Di tengah kesunyian malam, ponsel Arianti bergetar. Layar ponsel menunjukkan sebuah panggilan video dari Lukman. Senyum segera merekah di wajahnya. Ia langsung menggeser tombol hijau, tak sabar ingin melihat wajah Lukman yang sudah lama tidak ia lihat.

"Halo, Lukman!" sapa Arianti dengan ceria, memegang ponselnya sambil beranjak dari tempat duduk.

Lukman tersenyum, namun senyum itu memudar seketika. Matanya menangkap bayangan seseorang di belakang Arianti. Tanpa pikir panjang, ia bertanya dengan nada dingin.

"Teteh lagi apa? Sama siapa?" tanya Lukman, pandangannya lurus ke arah bayangan itu.

Arianti menoleh sebentar ke belakang, lalu menjawab dengan santai. "Oh, itu Reza. Dia habis antar aku pulang," jawabnya.

Wajah Lukman mengeras. "Jadi... Teteh ada waktu buat orang lain?" tanyanya, suaranya menusuk.

"Lukman, kamu kenapa sih?" ucap Arianti, suaranya terdengar tercekat. "Aku baru juga senang lihat kamu lagi."

Wajah Lukman melembut. Ia melihat ekspresi sedih Arianti di layar ponsel dan rasa cemburunya seketika berganti menjadi rasa bersalah. Ia menghela napas panjang.

"Maafkan aku, Teh," katanya lirih. "Aku... aku takut. Aku cemburu. Aku lihat kamu ketawa-ketawa sama dia, sedangkan aku di sini cuma bisa nunggu."

Air mata Arianti jatuh. Ia mengerti perasaan Lukman, tapi ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan. "Aku hanya butuh teman, Lukman. Aku kesepian di sini. Aku tidak pernah melupakan janji kita."

Lukman terdiam. Ia melihat air mata Arianti dan merasa semakin tidak berdaya. Jarak di antara mereka kini terasa lebih jauh dari sebelumnya.

Air mata Arianti mengalir deras. Ia tidak bisa lagi menahan kekecewaan. Ia melihat ke layar ponsel, ke wajah Lukman yang kini terlihat sangat asing baginya.

"Aku enggak habis pikir, Lukman," ucap Arianti, suaranya terdengar tercekat. "Enggak ada 

 berubahnya. Aku capek."

Lukman tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arianti dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu penginnya apa sih, Lukman?" tanya Arianti, suaranya kini penuh keputusasaan. "Kalau memang kita tidak bisa, bilang saja. Jangan buat aku merasa bersalah terus-menerus."

Di ujung telepon, Lukman menunduk. Ia tidak memiliki jawaban. Ia hanya bisa menangis dalam diam, merasa tidak berdaya dan terperangkap oleh jarak yang memisahkan mereka. 


Lukman, yang sedari tadi menunduk dalam diam, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya memerah, dan suaranya terdengar penuh amarah yang tertahan. Ia tidak bisa lagi menahan kecemburuan yang membakar hatinya.

"Ya, terus Teteh ada waktu buat dia, sementara sama aku enggak ada, hah?" sembur Lukman, nadanya menusuk.

Arianti terhenyak. Ia tidak menyangka Lukman akan mengeluarkan kata-kata sekejam itu. Tangisnya semakin menjadi-jadi. "Lukman, itu tidak benar! Aku tidak punya waktu buat siapa-siapa, aku cuma butuh teman," ucapnya, berusaha membela diri.

Namun, Lukman sudah terlanjur emosi. Ia menganggap penjelasan Arianti hanyalah alasan belaka. "Teman? Selama ini, aku ini siapa buat kamu, hah?" bentaknya.

Hubungan yang dulu penuh janji kini terasa seperti peperangan. Di antara mereka, kini bukan hanya ada jarak, melainkan juga rasa sakit dan cemburu yang memuncak.

"Dengan tangan gemetar, Arianti menekan tombol merah pada layar ponselnya. Panggilan video itu terputus, dan ia merasakan dunianya hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa lagi menahan beban di hatinya. Tanpa sadar, tubuhnya merosot, terduduk di lantai, dan ia menangis terisak-isak."

"Tak lama kemudian, sebuah sentuhan lembut menyadarkannya. Reza berlutut di depannya, memegang kedua lengannya dengan erat. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan Arianti menangis di sana. Kehadiran Reza yang sunyi, namun kuat, menawarkan perlindungan yang sangat dibutuhkan Arianti saat itu."

Setelah tangisnya sedikit mereda, Arianti merasakan tangan Reza yang memegang erat lengannya. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah Reza yang penuh kekhawatiran. Rasa malu dan bersalah menyelimuti hatinya.

"Maaf, Reza," ucap Arianti lirih, suaranya parau. "Aku... aku tidak apa-apa."

Reza menggeleng. Ia tidak memaksa Arianti untuk berbicara. Dengan lembut, ia membantu Arianti berdiri. "Tidak apa-apa," katanya. "Semua orang butuh menangis.

 Kata-kata sederhana itu terasa begitu menenangkan. Arianti merasa hatinya sedikit lega. Ia merasakan kenyamanan dan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh Lukman dari jauh. Dalam diam, Arianti tahu, malam itu, Reza telah mengambil tempat yang lebih dalam di dalam hidupnya.

Arianti perlahan bangkit berdiri. Matanya yang sembab menatap wajah Reza yang penuh pengertian. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah maju dan memeluknya. Itu adalah pelukan yang datang dari hati yang lelah, penuh dengan kesedihan, kekecewaan, dan kerinduan yang tidak terbalaskan.

Reza terkejut, namun ia segera membalas pelukan itu. Ia memeluk Arianti dengan erat, menenangkannya dalam diam. Di bahunya, Arianti menangis lagi, kali ini bukan karena amarah, tapi karena ia merasa akhirnya menemukan tempat yang aman untuk melepaskan segala beban di hatinya. Pelukan itu adalah sebuah pengakuan bisu. Pengakuan atas kesepian yang selama ini ia rasakan, dan pengakuan atas kehadiran Reza yang selalu ada di sisinya.

Reza memeluk Arianti dengan erat. Ia merasakan tubuh Arianti yang bergetar. Setelah beberapa saat, ia membisikkan sesuatu di telinga Arianti.

"Tidak semua yang kita inginkan itu bisa dipertahankan," bisiknya, suaranya terdengar lembut namun penuh arti.

Kata-kata itu menusuk ke dalam hati Arianti. Ia terdiam dalam pelukan Reza, memproses kalimat itu. Janji yang ia pegang teguh selama bertahun-tahun kini terasa seperti beban berat yang perlahan-lahan menghancurkannya. Bisikan Reza tidak terdengar seperti ajakan untuk menyerah, melainkan sebuah pengakuan bahwa ia mengerti rasa sakitnya.

Arianti tidak menjawab bisikan itu dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan dalam pelukan Reza. Gerakan kecil itu, penuh dengan keputusasaan dan pengakuan. Ia mengangguk, menyetujui bahwa janji yang ia pegang teguh selama ini mungkin tidak bisa dipertahankan. Ia telah sampai di titik lelah, di mana ia harus melepaskan.

Reza merasakan anggukan itu. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Sebaliknya, ia mempererat pelukannya, seolah memberi tahu Arianti bahwa ia mengerti. Air mata Arianti akhirnya mereda, meninggalkan keheningan yang penuh arti. Dalam pelukan itu, janji lama Arianti perlahan memudar, dan sebuah awal baru yang tak pasti mulai terbentuk.

Lukman menghabiskan satu minggu terakhir dengan menyibukkan diri di kebun. Ia bekerja tanpa henti, memanen sayuran dan merawat tanamannya. Setiap kali ia merasa hatinya kembali perih karena keheningan ponselnya, ia membenamkan dirinya lebih dalam lagi dalam pekerjaan. Sekitar pukul empat sore, keringat membasahi bajunya, dan ia akhirnya berhenti.

Ia duduk di bawah pohon, mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, dan bersiap menyalakannya. Pikirannya kosong, namun hatinya tidak. Ia teringat percakapan terakhir dengan Arianti. Kebisuan di antara mereka terasa lebih berat daripada pekerjaan di kebun.

Tiba-tiba, sebuah suara ceria mengagetkannya. Ia mendongak, dan melihat Saskia berdiri tidak jauh dari kebunnya, melambaikan tangan.

"Bang, aku lewat mana nih?" tanyanya.

Saskia berdiri di tepi selokan kecil yang cukup lebar, tampak ragu-ragu. "Gila, Bang, kalau jatuh gimana?" tanyanya sambil menatap Lukman.

Lukman hanya tersenyum. "Lompat aja," jawabnya santai.

Saskia menggeleng. Ia tidak mau mengambil risiko. Dengan sedikit malas, Lukman akhirnya bangkit dan mendekat. Ia meraih tangan Saskia dan menariknya kuat, menyeberangkan gadis itu dengan mudah. Setelah kakinya berhasil menginjak tanah kering, Saskia langsung menarik tangannya.

"Ih, Bang, tangan aku kotor kena tangan kamu," keluhnya sambil pura-pura cemberut.

Lukman terkekeh. "Kamu ini, ngapain kesini?" tanyanya. "Udah lama banget enggak ketemu, ya?"

"Sekitar tiga tahunan, ya, Bang," jawab Saskia, lalu tersenyum manis.

"Aku kuliah, Bang, sekarang," jawab Saskia sambil tersenyum.

Lukman terkejut. "Wah, keren," ucapnya. "Kuliah di mana? Ambil jurusan apa?" tanyanya, suaranya terdengar antusias.

Saskia lalu bercerita dengan ceria tentang kehidupannya di Jakarta, tentang mata kuliah yang ia ambil dan teman-temannya. Lukman mendengarkan dengan seksama, merasa seolah-olah ia sedang membuka jendela ke dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya sehari-hari. Ia sejenak melupakan semua masalah dan kerisauan di hatinya.

"Kamu sendiri, Bang, masih sibuk di kebun?" tanya Saskia.

Lukman menghela napas. "Masih begini-begini saja," jawabnya, suaranya terdengar lelah. "Hidup di kebun, nunggu hasil panen."

Saskia melihat perubahan nada bicara Lukman. Ia tersenyum, tapi senyum itu cepat menghilang. Ia menatap Lukman dengan tatapan yang penuh perhatian. "Bang, kamu kelihatan sedih. Ada masalah, ya? Soal pacar kamu yang di Taiwan itu?" tanyanya hati-hati.

Lukman terdiam. Ia menatap sebatang rokok yang belum sempat ia nyalakan. Selama ini, ia tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapa pun. Tapi entah kenapa, di depan Saskia, ia merasa ada ruang untuk berbagi. Dengan perlahan, ia menceritakan semuanya, dari janji tiga tahun yang mereka buat, perjuangan Arianti di Taiwan, hingga percakapan terakhir mereka yang penuh kesalahpahaman.

Lukman mengakhiri ceritanya dengan tatapan kosong, menatap ke arah matahari yang mulai terbenam. "Aku juga bingung harus gimana," ucapnya lirih. "Menurut kamu... apa yang harus aku lakukan?"

"LDR memang seperti itu, Bang," kata Saskia pelan, menatap Lukman dengan penuh pengertian. "Harus kuat-kuat menahan sabar."

Lukman menunduk, hatinya perih. "Mungkin aku yang tidak sabar," gumamnya, menyalahkan diri sendiri.

"Belum tentu," balas Saskia cepat. "Mungkin dia yang tidak bisa menahan rindu dan tergoda oleh keadaan di sana. "

Kata-kata Saskia membuat Lukman terdiam. Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Di tengah kebingungannya, ia merasa ada sedikit kelegaan dari rasa bersalah yang selama ini membebani hatinya.

Lukman menatap Saskia, matanya penuh kebingungan. "Terus aku harus gimana?" tanyanya. Ia merasa putus asa.

Saskia tersenyum lembut. "Hubungi dia. Minta maaf karena Abang sudah emosi. Ceritakan kalau Abang benar-benar sayang sama dia dan Abang takut kehilangannya," jawabnya.

Kata-kata Saskia membuat Lukman terdiam. Ia menatap kebun di depannya, lalu kembali menatap Saskia. Ia tidak menyangka Saskia akan memberinya nasihat seperti itu. Ada secercah harapan yang kembali muncul di hatinya.

Matahari sudah mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga. Saskia menatap Lukman yang masih terdiam, lalu berkata, "Bang, udah sore, pulang yuk."

"Nanti malam ke rumah, ya?" pinta Saskia.

Lukman terkejut mendengar ajakan itu. "Paman kamu enggak marah?" tanyanya hati-hati, teringat pertemuan pertamanya dengan Pak Hakim yang agak kaku.

Saskia terkekeh. "Kalau aku yang ke rumah Abang dia marah," jawabnya sambil tersenyum.

Melihat senyum Saskia, Lukman mengangguk. "Oke deh," jawabnya, akhirnya setuju.

Setelah kembali dari kebun dan membersihkan diri, Lukman duduk di teras rumahnya, menatap ponsel yang terasa berat di tangannya. Nasihat Saskia terngiang di telinganya.

Ia membuka aplikasi pesan dan mencari nama Arianti. Dengan perasaan campur aduk, ia mulai mengetik. Ia meminta maaf atas kecemburuannya, mengakui betapa ia takut kehilangan Arianti. Ia mencurahkan segala isi hatinya, tentang betapa berharganya janji mereka, dan betapa ia masih mencintai Arianti.

Setelah beberapa kali menghapus dan menulis ulang, ia akhirnya menekan tombol kirim. Pesan itu meluncur, membawa semua rasa sakit, rindu, dan harapannya. Hati Lukman terasa sedikit lebih ringan, namun ia tahu, jawaban Arianti yang akan menentukan segalanya.

Tak lama setelah Lukman mengirim pesannya, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Hatinya berdebar kencang saat melihat nama Arianti. Ia membuka pesan itu dengan tangan gemetar.

Pesan dari Arianti tidak berisi amarah, melainkan kesedihan dan sebuah keputusan.

"Maaf, Lukman. Aku juga minta maaf."

"Aku akan segera pulang. Tapi... aku harus membatalkan janji kita. karna sepertinya tidak bisa dipertahankan lagi."

"Maaf sudah membuat kamu lelah menunggu. Terima kasih sudah mencintaiku."

Lukman membaca pesan itu berulang kali. Ia terdiam, seolah waktu berhenti. Janji yang ia pegang teguh selama dua setengah tahun kini hancur dalam beberapa kalimat. Matanya terasa panas, namun tidak ada air mata yang keluar. Ia hanya merasa hampa.

Lukman merasa hatinya hancur. Ia terdiam, membeku di tempatnya. Hatinya terasa sakit, namun tidak ada air mata yang keluar. Janji yang ia pegang teguh selama dua setengah tahun kini hancur begitu saja.

Dengan perasaan hampa, ia menyalakan mesin motornya. Ia seharusnya tidak punya tujuan, namun teringat janjinya pada Saskia. Dengan perasaan kosong, ia menjalankan motornya perlahan, membelah jalanan desa yang sepi. Pikirannya melayang, sesekali ia melamun, tetapi ia tetap mengemudikan motornya menuju rumah Pak Hakim.

Lukman menjalankan motornya hingga tiba di depan rumah Pak Hakim. Ia memarkirkan motornya dan berjalan ke arah teras, di mana Pak Hakim sudah duduk santai di kursi rotan. Lukman masih merasa hampa, namun ia berusaha keras untuk menyembunyikan kesedihannya.

"Wiih, pekebun muda!" sapa Pak Hakim dengan senyum ramah. "Sini, duduk! Nanti Saskianya di panggil. Bisa-bisanya jam segini baru mandi," godanya.

Lukman tersenyum tipis, lalu duduk di kursi di seberang Pak Hakim. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan Saskia muncul dengan rambut yang masih sedikit basah, tersenyum lebar. Ia mengenakan kaus dan celana panjang longgar.

Saskia duduk di samping Lukman, lalu menatapnya dengan tatapan penuh arti. Pamannya hanya tersenyum, lalu beranjak masuk ke dalam rumah, memberi ruang bagi mereka berdua.

Saskia menoleh ke arah Lukman, lalu tersenyum tipis. "Aku tahu, pasti dia memutuskan janjinya.

Lukman tertegun. Ia tidak menyangka Saskia akan menebaknya dengan begitu tepat. Ia mengangguk pelan, membenarkan tebakan Saskia.

Saskia menatap Lukman dengan iba. Tangannya yang lembut terulur, memegang dada Lukman dengan perlahan. "Sabar, ya, Bang," bisiknya.

Lukman hanya bisa tersenyum getir. Ia tidak menyangka Saskia akan memberinya kenyamanan yang begitu tulus. Dalam hatinya, ia bergumam, "Saskia memang ceplas-ceplos, tapi dia sungguh menghibur." Kehadiran Saskia, yang penuh dengan tawa dan pengertian, terasa seperti obat penenang di tengah badai hatinya.

Setelah perjalanan panjang, mobil yang membawa Arianti dan Reza akhirnya tiba di depan rumah Arianti. Hati Arianti berdebar kencang, namun bukan karena bahagia. Ia sudah melihat pesan terakhir Lukman dan ia tahu, semuanya telah berubah.

Ketika turun dari mobil, Arianti tertegun. Rumput di halaman depan terpotong rapi. Tanaman bunga yang dulu hanya kuncup, kini bermekaran dengan indahnya. Dinding rumah yang kusam telah dicat ulang dengan warna cerah. Sebuah rumah yang dulu hanya ada dalam mimpi, kini berdiri nyata di depan matanya.

Lalu pandangannya tertuju pada satu hal: sebuah kunci menggantung di gagang pintu. Arianti melangkah mendekat, air mata mulai menggenang. Ia tahu, Lukman memang memenuhi semua janjinya. Ia membangun rumah itu, dengan harapan Arianti akan kembali dan mereka akan memulainya bersama.

Reza berdiri di sampingnya, diam. Ia melihat rumah yang indah itu, lalu menatap Arianti yang kini meneteskan air mata. Ia mengerti. Rumah ini bukan sekadar bangunan, melainkan bukti cinta dan kesetiaan yang kini terlambat. Arianti akhirnya pulang, tapi ia membawa hatinya yang sudah berbeda.

Dengan tangan bergetar, Arianti mengambil kunci yang menggantung di gagang pintu. Kunci itu terasa dingin di telapak tangannya. Ia memutar kunci itu perlahan, lalu mendorong pintu hingga terbuka.

Bau cat baru menyambutnya. Di dalam, rumah itu bersih dan rapi. Dindingnya dicat putih, dan lantai kayunya dipoles dengan apik. Di sudut ruang tamu, ada sebuah bangku kayu yang diukir dengan sederhana, dan di atasnya ada sebuah kotak kecil berisi peralatan tukang milik Lukman.

Arianti melangkah masuk, diikuti oleh Reza. Ia berdiri di tengah ruangan, merasakan keheningan yang memilukan. Rumah ini seharusnya menjadi awal dari kisah mereka, tetapi kini, rumah ini hanya menjadi bukti dari janji yang telah ia ingkari. Ia menutup matanya, merasakan air mata kembali mengalir. Rumah yang dibangun dengan cinta dan kerja keras Lukman kini terasa seperti penjara yang mengurungnya dalam penyesalan.

Reza tetap berdiri di belakangnya, diam. Ia mengamati Arianti yang terisak dalam kesunyian.

Arianti berbalik, menatap Reza yang berdiri tak jauh darinya. Matanya masih sembab, tetapi tatapannya kini berubah, mencari kekuatan. Ia memegang dadanya, seolah mencoba menahan rasa sakit yang memuncak.

"Dia melakukan ini semua," bisik Arianti, suaranya parau. "Dia membangun rumah ini, Reza. Dia menepati janjinya. Dan aku..." Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, isakan kecil lolos dari bibirnya.

Reza melangkah mendekat. Ia tidak menyentuh Arianti, hanya berdiri di depannya, menatapnya dengan lembut. Ia tahu, kata-kata tidak akan bisa memperbaiki apa pun saat ini.

"Maafkan aku," kata Arianti lagi. "Aku tahu kamu ada di sini, aku tahu ini salah... tapi aku tidak tahu lagi harus berbuat apa."

Ia menundukkan kepalanya, merasa hancur. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaannya, Arianti merasa ia telah kehilangan segalanya.

Reza melangkah mendekat, lalu dengan lembut menyentuh bahu Arianti. Ia tahu, ini bukan saatnya untuk berbicara tentang perasaannya sendiri. Ia harus menjadi sandaran, bukan sumber masalah baru.

"Arianti, dengarkan aku," katanya dengan suara pelan. "Tidak ada yang salah dengan perasaanmu. Kamu sudah menunggu selama ini, dan kamu sudah berusaha."

Ia mengusap punggung Arianti dengan lembut. "Kamu hanya ingin pulang. Dan kamu sudah sampai di rumah. Rumah ini dibangun untukmu, tapi kebahagiaanmu... itu adalah hal yang terpenting."

Arianti tidak menjawab, tetapi ia merasakan kenyamanan dari sentuhan Reza. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi lambang janji yang tulus, ia menemukan penghiburan dari seseorang yang telah menyaksikan kehancuran hatinya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di teras. Pintu rumah terbuka, dan Ibu Maesaroh muncul dengan senyum hangat yang langsung memudar saat melihat Arianti dan Reza.

"Eh, sudah datang," sapanya pelan.

Arianti langsung melepaskan diri dari Reza dan memeluk Ibu Maesaroh. Tangisnya pecah di bahu wanita itu. "Maafkan saya, Bu," isaknya. "Maaf sudah merepotkan anak Ibu."

Ibu Maesaroh membalas pelukan itu dengan erat. Ia mengusap lembut rambut Arianti. "Tidak apa-apa, Neng. Kalau bukan jodohnya, memang susah," katanya dengan suara yang tenang.

Kata-kata itu, yang seharusnya menenangkan, justru membuat tangis Arianti semakin deras. Di dalam pelukan Ibu Maesaroh, Arianti merasakan kedamaian yang sama, tetapi juga rasa bersalah yang tak terhingga.

Ibu Maesaroh menuntun Arianti masuk ke dalam rumah. Ia menyuruh Reza untuk duduk dan memberikan segelas air untuk Arianti.

"Sudah, Neng. Jangan menangis lagi," kata Ibu Maesaroh, suaranya lembut. "Ibu tahu, Neng pasti capek."

Arianti menatap Ibu Maesaroh dengan mata sembab. "Bu, saya tidak tahu bagaimana cara bilang... Saya minta maaf karena sudah membuat Lukman sakit hati. Saya membatalkan janji kami."

Ibu Maesaroh mengangguk pelan. "Ibu sudah tahu, Neng. Lukman juga sudah cerita. 

"Jangan merasa bersalah. Ibu tahu anak Ibu sudah berusaha. Ibu juga tahu Neng Arianti sudah berjuang. Tapi kalau memang jalannya begini, mau bagaimana lagi?" lanjutnya. "Yang penting sekarang, Lukman bisa kembali bahagia, dan Neng juga."

Reza bangkit dari duduknya. Ia tahu, sudah waktunya bagi dirinya untuk pergi. Ia tidak bisa terus-menerus berada di sana.

"Aku pamit, ya, Ri," ucapnya pelan. "Ada travel yang mau jemput. Aku harus segera kembali ke Tangerang."

Arianti menatapnya, hatinya terasa berat. Ia memeluk Reza dengan erat. Pelukan itu terasa seperti ucapan terima kasih atas semua dukungan yang telah Reza berikan, dan sebuah perpisahan yang terasa berat.

"Terima kasih banyak, Reza," bisik Arianti.

Reza membalas pelukan itu, lalu melepaskannya perlahan. Ia tersenyum tipis, menatap Arianti sejenak, lalu berjalan keluar. Arianti mengantar Reza sampai mobil travel datang dan pergi. Ia kini sendirian, di dalam rumah yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaannya bersama Lukman.

Reza bangkit dari duduknya. Ia tahu, sudah waktunya bagi dirinya untuk pergi. Ia tidak bisa terus-menerus berada di sana.

"Aku pamit, ya, Ri," ucapnya pelan. "Ada travel yang mau jemput. Aku harus segera kembali ke Tangerang."

Reza memeluk Arianti dengan erat. Pelukan itu terasa seperti ucapan terima kasih atas semua dukungan yang telah Reza berikan, dan sebuah perpisahan yang terasa berat.

"Terima kasih banyak, Reza," bisik Arianti.

Reza membalas pelukan itu, lalu melepaskannya perlahan. Ia tersenyum tipis, menatap Arianti sejenak, lalu berjalan keluar. Arianti mengantar Reza sampai mobil travel datang. Sebelum masuk, Reza menoleh ke arah Arianti.

"Aku janji akan melamar kamu," ucapnya, suaranya terdengar tulus.

Arianti terdiam, tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap Reza yang kemudian masuk ke dalam mobil. Ia kini sendirian, di depan rumah yang dibangun untuk janji lama, dengan janji baru yang menggetarkan hatinya.

Arianti duduk di bangku kayu, menatap kosong ke luar jendela. Ia merasa seperti berada di persimpangan jalan. Satu sisi adalah kenangan manis bersama Lukman dan janji yang telah ia ingkari. Di sisi lain, ada kehadiran Reza dan janji baru yang tiba-tiba memberinya harapan.

Lukman duduk di teras rumahnya, pandangannya lurus ke arah sawah yang terbentang luas. Pikirannya kosong, namun hatinya tidak. Ia masih merasakan kehampaan yang ditinggalkan oleh pesan terakhir Arianti.

Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di hadapannya. Arianti berdiri di depan teras, tersenyum canggung. Dada Lukman bergetar, namun ia berusaha keras untuk tetap tenang.

"Hai, Lukman," sapa Arianti pelan. "Apa kabar? Sibuk apa sekarang?"

"Baik," jawab Lukman singkat. "Ya... seperti biasa. Di kebun."

Mereka terdiam. Hening. Percakapan mereka terasa dipaksakan, penuh dengan kata-kata yang tidak terucap.

Lukman menelan ludah. Ia memandang sawah di depan, lalu kembali menatap Arianti. Dengan hati-hati, ia mencoba bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam.

"Teh Yanti..." panggil Lukman pelan. Kata-kata itu begitu familiar, namun kini terasa berat diucapkan. "Kenapa... kamu tidak bilang akan pulang? Ada apa... sampai kamu membatalkan semuanya?"

Arianti terdiam. Wajahnya yang tadi tersenyum canggung kini dipenuhi rasa bersalah. Mendengar Lukman memanggilnya dengan sebutan yang begitu akrab, hatinya terasa sakit. Ia tidak menyangka Lukman akan langsung bertanya tentang hal itu. Ia melihat ke matanya, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan segalanya.

Arianti menunduk. Ia tidak sanggup menatap mata Lukman. "Ya, maaf," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Kalau membuat kamu menunggu. Pada akhirnya, aku yang memutuskan janji."

"Enggak perlu minta maaf, Teh," ucap Lukman pelan. Ada getaran dalam suaranya. "Yang bikin Teteh mutusin janji kan aku. Kalau bukan karena aku, Teteh enggak akan mutusin janji."

Arianti terdiam. Ia menatap Lukman, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sudah siap menerima kemarahan, tetapi yang ia dapatkan justru sebuah pengakuan yang penuh dengan rasa bersalah. Kata-kata Lukman menusuk hatinya lebih dalam daripada amarah mana pun.

Di tengah keheningan yang menyesakkan, sebuah suara berdesir pelan memecah kesunyian. Tak lama kemudian, muncul Saskia mengendarai motor listrik baru yang terlihat modern. Motor itu berhenti tidak jauh dari teras.

Arianti tertegun. Ia menatap gadis cantik yang baru turun dari motornya. Pakaiannya terlihat modis, dan rambutnya tergerai rapi. Arianti tidak menyangka akan ada gadis secantik itu di kampung yang selama ini ia tahu begitu sepi.

Saskia menghampiri Lukman dengan langkah santai. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya dan menyodorkannya pada Lukman. "Bang, nih uang dari Uwa, bayar sayuran kemarin," katanya dengan nada cuek.

Lukman menerima uang itu, lalu merogoh sakunya. "Wah, enggak ada kembaliannya," jawab Lukman.

"Ambil aja," kata Saskia sambil mengangkat bahu.

Lukman mengangguk, lalu menunjuk ke arah Arianti yang masih berdiri diam. "Eh, kenalin," kata Lukman, suaranya sedikit gugup. "Ini..."

"Kenalin, Saskia," kata Lukman, suaranya terdengar canggung.

Saskia tersenyum. "Saskia," ulangnya sambil mengulurkan tangan.

Arianti membalas jabatan tangan itu. "Arianti," sebutnya pelan. Ia merasakan tangan Saskia yang halus dan dingin

"Ah, ini," kata Saskia pelan, tatapannya beralih dari Arianti ke Lukman. Wajahnya datar, namun matanya penuh dengan arti. Lukman hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Saskia yang begitu polos, tetapi di saat yang sama, ia juga merasa sedikit salah tingkah.

Arianti terdiam, merasa seperti ia baru saja tertangkap basah. Ia menyadari, Saskia bukanlah gadis biasa di kampung ini. Keberadaannya, dan cara ia menatap Lukman, terasa begitu akrab.

"Kalau begitu, aku pamit, Bang," kata Saskia.

Dia melambaikan tangan, melirik sekilas ke arah Arianti dengan senyum tipis yang tak terbaca, lalu menatap Lukman. Senyum di wajahnya mengembang lebih lebar, penuh dengan makna yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.

Lukman hanya mengangguk, merasa salah tingkah. Dia tahu senyum itu adalah janji tak terucapkan.

Setelah Saskia melaju pergi, keheningan kembali menyelimuti teras itu. Kali ini, keheningan itu jauh lebih berat dan penuh dengan pertanyaan.

Malam harinya, Arianti duduk di ruang tamu, berbicara di telepon dengan Reza. Suaranya terdengar pelan, sesekali tertawa kecil. "Iya, hati-hati di jalan ya," katanya, sebelum mengucapkan selamat tinggal.

Tepat saat ia hendak meletakkan telepon, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu. Arianti membuka pintu dan melihat Lukman berdiri di sana. Wajahnya terlihat lebih tenang dari kemarin, namun tetap ada kesedihan yang tersisa di matanya. Di tangan kirinya, ia membawa sebuah tas plastik hitam.

Arianti merasa canggung. Ia mempersilakan Lukman masuk, lalu menaruh telepon di atas meja. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua di dalam rumah itu.

Arianti menyuguhkan air. Lukman menghela napas panjang, menatapnya sejenak. Ia kemudian mulai menceritakan masa kecil mereka, saat Arianti memiliki suami, perceraiannya, hingga ia berangkat ke Taiwan. Lukman mengenang janji Arianti untuk menjalin kasih sebelum pergi, dan bagaimana janji itu akhirnya diputus oleh arianti karena waktu dan keadaan.

" ini teh, sisa uang yang di kirim teteh tiap bulan" lukman menyodorkan kantong plastik, arianti terkejut," uang ini sisa memperbaiki rumah teteh, ada sekitar 35 juta lagi". kata lukman tersenyum.

arianti hanya terdiam, ia tahu uang itu harusnya milik lukman upah mengurus rumah selama tiga tahun.

"Lukman, uang ini  milikmu. Pakai saja, itu upahmu selama tiga tahun." Kata Arianti menatap serius. 

Lukman menggeleng, tatapannya lekat pada kantong plastik hitam di depannya. "Tidak, Teh. Aku tidak berhak memiliki uang ini." 

"Lalu, untuk apa kamu kumpulkan?" tanya Arianti, suaranya dipenuhi keheranan.

"Tadinya, uang ini mau aku pakai sebagai modal untuk kelak, kalau kita menikah," jawab Lukman.

Arianti terdiam. Ia tak menyangka Lukman memiliki pemikiran sejauh itu. Sebuah rasa bersalah menyergapnya.

"Tapi sekarang lebih pantas untuk kebutuhan Teteh dan calon suami Teteh nanti," potong Lukman

Tentu saja, rencana tulus Lukman itu bagai tamparan keras bagi Arianti. Hatinya terpukul, dipenuhi penyesalan mendalam. Ia tidak pernah menyangka Lukman, dengan kesederhanaannya, bisa memiliki pemikiran sejauh itu—sebuah rencana yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Lukman pergi begitu saja, tanpa pamit, meninggalkan Arianti yang masih terpaku dalam keheningan, tak habis pikir.

ponsel berdering dari reza tapi arianti tak memperdulikannya.

Posting Komentar untuk "SEMUA BERUBAH KETIKA DIA PERGI"